Oleh
Putu Audrina Cahyani
Di kurikulum yang katanya merdeka ini, peran anak muda dalam menjaga lingkungan dan melestarikan budaya mulai tergeser. Peradaban-peradaban desa mulai pudar. Bagaimana tidak, setelah selesai menempuh pendidikan, anak-anak muda selalu diajarkan ilmu pergi, ya pergi dan meninggalkan desa mereka untuk melanjutkan tugas sebagai orang dewasa dan mencari bekal agar dapat bertahan hidup jauh sampai ke Negeri Cina. Masih menjadi hal yang mengganjal, apakah setelah itu mereka akan kembali ke desa mereka? Apakah mereka berkesempatan melakukan perubahan di desa mereka? Lantas jika semua anak-anak muda khususnya di Bali selalu terpengaruh akan ilmu pergi, siapa yang akan mewariskan peradaban desa ini? Beberapa kekhawatiran ini hanya akan terjawab jika anak-anak muda yang pernah pergi ingat untuk kembali pulang ke desa mereka, tempat mereka tumbuh, dan dibesarkan.
Abiwara, sebuah komunitas kecil beranggotakan anak-anak muda yang berada di Desa Munduk, dalam lingkup Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Buleleng, Bali. Nama Abiwara diangkat dari Bahasa Sansekerta yang berarti belajar/pelajaran/pengetahuan/pemimpin/berguna/lebih berguna. Komunitas Abiwara pertama di kenal pada tahun 2022 lalu. Komunitas ini hadir sebagai wadah insan-insan muda yang mau belajar.
Banyak quote-quote tentang belajar yang sering kami dengar seperti, “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina”, “Belajar Pangkal Pandai”, “Investasi Pengetahuan Adalah Hal Terpenting” dan “Tak Ada Jalan Pintas ke Tempat yang Layak Dituju”. Perkembangan ilmu, tren, dan gaya hidup membuat semua aspek tersebut harus dipelajari. Belajar itu selalu identik dengan batasan, batasan nilai, waktu, bahan ajar, area, usia, bahkan batasan biaya. Namun, bagi Komunitas Abiwara, belajar adalah sebuah kebebasan. Tidak ada satu pun hal yang bisa membatasi kita jika kita benar-benar ingin belajar.
Seiring berkembangnya zaman, sumber daya alam dan ekosistem di sekitar kita semakin rusak. Hutan-hutan hijau di pedesaan mulai gundul dan dibangun tempat wisata oleh investor-investor asing. Sedikitnya pemahaman warga setempat akan pentingnya menjaga hutan menjadi salah satu faktor pendukung. Akibatnya, alih fungsi lahan dan illegal logging semakin membludak. Satu per satu lahan dan hutan warga lokal dibeli oleh investor asing yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengantisipasi hal itu, tindakan ini memerlukan dukungan dari warga setempat dan beberapa pihak yang berwenang. Dalam kasus ini, Komunitas Abiwara hadir sebagai komunitas yang paham dan berani bersuara tentang kerusakan alam.
Cuaca yang semakin panas, udara yang semakin tidak sehat, air yang semakin kotor, dan populasi sampah yang semakin tidak terurus itu adalah teman kami. Kami sebagai anak muda akan terus hidup bersama beribu tantangan lainnya. Bagaimana bisa? Kami akan selalu belajar, belajar meningkatkan kesadaran dan paham akan lingkungan melalui program “Muruk”.
Muruk, yang berarti belajar, adalah salah satu program Komunitas Abiwara yang akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Beberapa program muruk yang telah berjalan yaitu: Muruk ngelawar, di mana ini menjadi program pertama sejak Komunitas Abiwara berdiri. Muruk ngelawar bertujuan untuk kita sebagai anak muda bisa belajar mengolah pangan lokal dan tidak bergantung dengan makanan-makanan import. Muruk ngolah sampah, belajar memperlakukan sampah dengan baik dan bijak. Muruk Medagang, belajar mengolah bahan-bahan pangan lokal menjadi suatu produk yang dapat dipasarkan. Muruk ngulat dekorasi, belajar mengolah hasil alam menjadi hiasan upacara yan ramah lingkungan. Ngasag-ngasag (jalan-jalan), belajar mengenal lingkungan sekitar, melihat kondisi alam sekitar. Muruk ngai ecoprint, belajar teknik printing dari bahan ramah lingkungan seperti dedaunan, batang, atau bunga-bunga yang kami dapatkan dari lingkungan tempat kami tinggal.
Melalui ulasan itu, bangunlah komitmen dan kesadaran akan pentingnya konservasi alam. Kita harus selalu hidup berdampingan dengan alam bagaimanapun kondisinya, karena kondisi alam itu adalah konsekuensi yang kita terima atas perbuatan kita terhadap alam itu sendiri. Jagalah alam sebagaimana kita menjaga diri kita sendiri. Ambillah langkah kecil untuk menuai sedikit perubahan bagi sekitar kita. Tidak ada kata terlambat. Buatlah detak jantungmu selaras dengan detak alam semesta.