Bagian 1
Oleh Krisya Bawanti
Jeritan nestapa ini, sulit untuk ku hapus, sulit untuk ku hilangkan dalam setiap sarafku. Semuanya telah menjalar, menyebar sampai ke sumsum otakku. Dalam penantian sepi aku curahkan segenap perasaanku. Meski takut aku untuk mengungkapkan semua yang pernah terasa. Seolah kalimat hingga paragraf itu yang terngiang-ngiang dalam benak.
“Hai…bagaimana, sudah siap? sapanya. Sapa perawakan tampan yang lengkap dengan jubah putih kebesarannya. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran wanita seperampat abad ini hanyalah kehidupan. Kehidupan yang lebih lama akibat terauma yang sangat dalam dari suntikan benda tajam yang ku sebut jarum ‘dingin’
Suara denting sana sini yang beradu mulai terdengar saat aku memasuki ruang dingin ber AC satu ini. Bunyi yang dihasilkan oleh kedua benda yang berbeda bahan dasar itu bukan bunyi yang asing bagi tempat ini. Di waktu-waktu tertentu bunyinya bahkan bisa lebih keras dan berulang disebabkan oleh tingkat kerumitan yang akan ditanganinya.
Siang ini, aku yang kali pertama merasakan suasana beku ini sontak kaget sehingga memacu aliran tensi darahku hingga naik 160/80 mmHg dari ukuran normal biasanya yang hanya 120/80 mmHg. “Wahh…ada apa denganku? Apakah ini yang namanya ketegangan?”, gumamku. Bagaimana jika aku kekurangan darah dan stok darah rumah sakit habis? Bagaimana jika mati?. “Arrgghh….” pikiranku semakin tak karuan.
Untuk mencairkan suasana agar kembali normal, aku menghela nafas panjang. Menenangkan pikiran sejenak sambil membuka ponsel menjelajahi dunia maya. Berharap mendapatkan hiburan dengan mengupdate status atau bahkan melirik postingan BTS. Tapi, semuanya hanya sia-sia, tak sedikitpun menggubris tensi darah yang tak mau turun ke ukuran normal.
“Jangan terlalu banyak pikiran, berusahalah berpikir positif dan banyak berdoa”, kata wanita cantik di sebelahku. Aku hanya bisa terdiam, tak mampu ku jawab perkataan wanita itu.
Melihat ruangan yang sudah mulai dengan kebisingannya membuat gejolak pikiranku sudah tak karuan. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur di tempat yang telah disediakan sambil menyumpal telingaku dengan earphone yang sudah mengeluarkan suara dari aplikasi mp3 yang berjalan di ponselku. Lagu-lagu yang terputar di mp3 itu nggak pernah bisa ditebak. Rasanya seperti memenangkan undian ketika aku sedang memikirkan satu lagu yang tiba-tiba muncuk di kepala, lalu dengan ajaibnya mp3 akan memutarkan lagu tersebut.
Aku yang sudah merasa sedikit tenang, dikejutkan oleh beberapa orang yang akan memindahkanku ke ruangan yang lebih dingin. Pakaian mereka lengkap dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bahkan bisa dibilang hanya mata saja yang terlihat tanpa busana. Seorang wanita seusiaku kembali mengaturkan alat pendeteksi ke tanganku. Alhasil, sudah mulai turun tensi darahku.
“Kita mulai ya bu, ingat berdoa dan berserah. Semuanya akan baik-baik saja”, katanya memotivasi.
“Krogg…. krogg… krogg, wadah itu menyeretku masuk ke ruangan full AC yang sontak membuat badan ini kaget hingga menggigil. Mereka menelanjangiku seperti binatang yang akan disembelih. Peralatan lengkap dengan pernak-perniknya mulai dipasang di tubuhku. Dua asisten anastesi menyiapkanku untuk pasang tensimeter, elektroda EKG untuk rekam jantung dan alat ukur kadar oksigen.
Saat itu, aku hanya bisa pasrah, mulutku hanya bisa komat-kamit mengucap doa ‘Gayatri Mantram’ sebanyak-banyaknya. Tak jarang pikiran negatif muncul di sela-sela kepasrahan ini.
“Aku tidak mau kalah sampai disini.., berikan aku kekuatan Tuhan, aku ingin hidup 1000 tahun lagi”, pintaku pada-Nya dalam doa.
Mereka mulai membaringkan tubuhku dan memasukan benda tajam kecil itu lagi di punggungku. Ku sebut dia ‘jarum dingin’, jarum kecil yang membuatku sangat-sangat trauma sampai kapanpun. Kenapa ku sebut dia ‘dingin’, karena dia memberi rasa dingin untuk tubuhku yang saat ini sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Anastesi epidural (suntikan obat bius lewat tulang belakang). Prosesnya tidak sampai 10 menit, tapi menyisakan trauma seumur hidup bagiku. Itu baru tahap awal operasi. Selanjutnya, Ketika obat bius itu masuk, perlahan-lahan tubuhku mulai mati rasa. Mereka mulai sigap membuat sayatan demi sayatan di perutku. “Pyurrrrrr…” pikiranku menerawang entah kemana, berusaha ku tak pejamkan mata, karena takut ketika aku terpejam maka aku akan mati. Efek ‘jarum dingin’ itu sudah mulai, tubuhku sudah mati rasa setengah. Tepatnya, dari bagian punggung hingga ke ujung kaki. Mata mulai ingin terpejam karena kantuk teramat sangat. Tetap, lantunan doa selalu aku kumandangkan dan berusaha menerawang ke hal-hal yang baik.
“Tang ting… tang-ting”, suara itu semakin keras terdengar. Tangan yang mendorong-dorong perut semakin membuat gemetar. Cekikikan dan obrolan orang-orang berjubah hijau itu menambah riuhnya pikiran.
“Ngoooeekkk…ngoooekkk…ngoeekkk”, tepat pkl. 12.01 WITA malaikat kecil yang kelak menyebutku dengan sebutan ibu terlahir ke dunia.
Perjuanganku belum selesai sampai disitu. Hari-hari berikutnya aku merasakan nyeri punggung yang berat dan butuh perjuangan untuk sekedar bangun dari tempat tidur. Bahkan, untuk batuk atau tertawa sekalipun sangat terasa sakit pada bekas sayatan itu. Banyak gimik yang sering ku dengar di luar bahwa ‘lahiran caesar itu belum sempurna menjadi ibu’. Tapi, pernah gak terlintas dibenak kalian kalau sakit karna tergores pisau saja bisa berhari-hari sembuh, padahal itu luka kecil? Bagaimana dengan luka caesar?.
Gimik ‘belum sempurna’ itu tidak akan pernah kalian lontarkan. Karena bagiku, pejuang caesar sama sakitnya dengan pejuang normal. Karena, mau caesar ataupun normal seorang ibu akan sama-sama berjuang untuk membawa dia lahir ke dunia. Siapa sih yang mau di caesar? Stop urus rahimku, ini bukan salahnya. Tapi keadaanlah yang memaksanya untuk mengambil lalan ini.
Menyesal, karena tubuhku dirobek-robek?…. tidak sama sekali.
Terharu?…. ia
Bahagia?….ia
Ketakutan ini hilang, ketika mendengar suara keras di sebelah telinga. Seorang wanita membisikan kalimat ke telingaku, “anak ibu perempuan.., cantik, lengkap dengan dua lesung pipinya”. Semakin membuncahlah pikiran ini. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata sepatah katapun. Mungkin karena efek anastesi epidural. Yang kurasakan hanya mengantuk dan kedinginan.
Dari tahun itu, tahun 2019. Aku memiliki gelar baru dalam hidupku, gelar yang tidak akan pernah hilang ketika aku dewasa. Gelar yang memberiku rasa bangga. Gelar yang tidak akan pernah lekang selama aku hidup di dunia.
Ya…. Gelar itu, IBU
Mungkin Sebagian wanita, gelar ini tak penting. Tapi, bagiku gelar ini sangat sangat berharga dalam hidupku. Dulu, aku tak mengerti bagaimana menjadi seorang ibu. Apa mungkin, menjadi ibu prihal perempuan cerewet yang bisanya memarahi anaknya saja. Atau mungkin, menjadi ibu hanya prihal nama sebutan semata untuk anak kecil saja. Tapi semua itu sangat tidak benar. Bagiku, gelar ibu adalah gelar terhormat yang dinobatkan untuk seorang wanita.
Bagiku, ibu adalah seorang peri tak bersayap. Bagiku, ibu adalah matahari di hidupku. Bagiku, ibu adalah penyinar gelap gempitaku. Bagiku, ibu adalah obor penerang butaku. Dan bagiku, ibu adalah ARUNIKA untukku kala renjanaku mulai tak mau bersahabat.
Tetaplah berjuanga meskipun ikhwal ibu pejuang Caesar itu dianggap sebagai ibu yang ‘tak Sempurna’.