Bagian 2

Oleh Krisya Bawanti

 

Kisah ini berlanjut, seperti episode drama korea. Dimana aku yang jadi peran utamanya. Dibilang terauma, tentu saja tidak. Tapi setidaknya gelar baru itu sudah ku dapati semenjak gadis mungil itu lahir ke dunia.

Dunia ku berubah 360 derajat. Dari dulunya, aku yang hanya wanita yang tak paham akan memperlakukan anak kecil, apalagi bayi. Kini harus bisa super cekatan dalam membagi waktu, tenaga dan pikiran. Aku terbilang wanita karier, ya… wanita karier. Karena posisiku sekarang adalah seorang guru yang berupaya mengajar dan membelajarkan anak-anak orang lain.

Dengan berbagai situasi dan kondisi yang harus aku jalani saat ini, sempat terbersit rasa depresi bahkan baby blues yang membuat lonjakan emosiku mulai tak terkontrol. Rasa mudah tersinggung semakin merajai pikiran, terasa ada tekanan batin apalagi saat semua kesalahan dilimpahkan pada ku Ketika si bayi mengalami gangguan, entah menangis karena kram perut, diare, dan gangguan lainnya.

Oke… cerita berlanjut terus, kini usia gadis mungil itu menginjak 3,5 tahun. Aku kembali dihadapkan pada dilema haid yang tak kunjung runtut. Aku masih santai dan berpikir ini adalah pengaruh hormon berat badan. Karena jujur saja, semenjak menjadi ibu, berat badanku mulai tidak stabil, timbangan ke kanan terus. Padahal ihwal seorang ibu yang dalam proses meng-ASIhi berat badannya pasti turun terus. Ini merupakan proses alami karena serat makanan yang ibu makan akan dicerna oleh bayi nya. Namun, ihwal ini tidak berlaku padaku. Berat badanku selalu nganan terus. Aku tak mengerti, padahal otak dan pikiranku selalu merasa terbebani dan penuh. Tapi tentunya tak berlaku dengan nafsu makanku.

Semua yang terjadi adalah takdir. Ini rejeki dari Tuhan yang harus aku terima. Aku kembali dihadapkan pada dilema 3,5 tahun yang lalu. Dimana, aku harus kembali belajar menjadi seorang ibu untuk kedua kalinya. Pikiranku kembali melayang,  bernostalgia pada apa yang pernah aku lalui sebelumnya. “Jarum dingin”, selang infus, anastesi epidural, Caesar. Arrggghhh… pikiranku mulai tak karuan lagi.

Sembilan April 2022, tanggal bulan dan tahun di bulan ke Sembilan aku memeriksakan balon yang ada di perutku untuk USG (Ultrasonografi). Astungkara, hasilnya semua bagus dan siap untuk dikeluarkan karena berat badannya sudah cukup untuk dikeluarkan tanpa menunggu waktu HPL tiba. Dadaku mulai sesak, pikiranku mulai menerawang memikirkan kali kedua ku harus berhadapan dengan ruangan full AC dan ‘jarum dingin’ lengkap dengan pernak-perniknya.

Kali kedua ini, prosesku tidak begitu mulus untuk mengeluarkannya karena aku harus ganti rumah sakit untuk meminimalisir kemungkinan terburukku saat aku kekurangan cairan merah itu. Yang terbersit pikiran negatif memenuhi pikiran. Mulai dari kurang darah hingga bagaimana jika tiba-tiba tak mampu bernafas saat melahirkan.

Oke, pilihanku jatuh pada sebuah rumah sakit swasta. Ini berkat rekomendasi dari beberapa teman yang sudah punya pengalaman disana. Menurutnya, fasilitas di rumah sakit itu memadai, pelayanannya ramah, cepat, dan memuaskan pasien. Dua hari sebelum hari-H akan proses tindakan yang semestinya harus dikeluarkan, pikiranku kembali bernostalgia pada lembaran lama yang seharusnya tidak aku ingat kembali. Trauma itu kembali datang menghampiri, apalagi saat itu musim-musimnya Corona Virus menyerang. Kembali ku pasrahkan hidupku pada-Nya. Berserah adalah jalan ninjaku dan tetap diiringi dengan komat-kamit doa ‘Gayatri Mantram’.

Sebelum aku menuju proses ‘belah perut’ lagi. Kali ini, perlakuannya berbeda dari yang kali pertama. Aku mulai di tes swab untuk mendapatkan hasil apakah tubuhku semua siap untuk melakukan proses ini. Kali ini bukan orang-orang yang lengkap dengan jubah putih yang aku temui, tetapi jubah hijau dengan segala perlengkapan yang sudah siap di tangan. Seorang wanita dengan jubah hijau mengajakku ke sebuah ruangan. Dia memasukkan alat kecil yang mirip dengan pipet kecil ke hidungku. Setelah proses itu selesai, wanita itu memintaku untuk menunggu hasilnya sebelum tindakan ‘belah perut’ itu kembali dilakukan.

Krooooggghhh……. Kroogghh….. Aku mulai dimasukkan ke ruangan yang full AC, didorong untuk menjauh dari suami. “Mak, aku yakin kamu bisa. Semoga kalian sehat-sehat ya,” bisik suamiku sambil menggenggam erat tanganku. Aku hanya bisa mengangguk, berusaha menenangkan diri dari pikiran yang amburadul. Pikiranku dipenuhi bayangan-bayangan tentang sakit itu lagi dan proses pemulihan yang berefek pada lamanya bisa jalan. Aku trauma saat sesar pertama ketika bekas robekan itu berair dan berdarah. Dari kejauhan, suami tampak gelisah menantapku, berharap semua akan baik-baik saja.

Pagi itu, suasana terasa beku dan penuh antisipasi. Aku berbaring di ranjang yang penuh dengan kabel-kabel dan peralatan medis. Jantung yang biasanya berdetak normal kini seakan-akan memacu kecepatan seperti lari maraton. Bukan debar gembira karena akan segera bertemu dengannya, tetapi debar cemas akan tindakan pembedahan yang sudah di depan mata.

Di dalam ruangan itu, aku dihadapkan pada delapan pasang mata yang siap menontonku saat aku mulai digarap dengan alat-alat mereka. “Pyuuuuhhhh, aku tarik nafas panjang. Pertanda aku mulai memasrahkan hidupku dengan ribuan macam doa yang tak lupa ku sematkan. Dari delapan pasang mata yang mengamatiku, mereka siap dengan tugas-tugas mereka. Ada yang bertugas menyuntikkan anastesi epidural pada bokongku, ada yang memasangiku dengan infus dan pernak-pernik jarum di tangan, dan sebagainya.  “Tang… teng…tang…teng, semua perlengkapan itu berbunyi menakuti pikiranku. Dalam ketakutan dan kekalutan pikiran, aku berusaha untuk tetap terjaga. Takut untuk menutup mata. Meski area bokong hingga kaki sudah mati rasa, aku tetap tangguh. Memantapkan hatiku untuk tetap terjaga dan mendengar teriakan makhluk kecil lahir kembali ke dunia. Kali ini, dia berjenis kelamin laki-laki. Pipinya gembul, badannya berisi, dan kulitnya merah. Dalam suasana hati yang bercampur aduk, antara bahagia, takut dan kedinginan, hatiku mulai tenang. Yang sekarang terlahir ke dunia ialah malaikat kecil dengan wajah rupawan. Suara kebahagiaan terdengar saat dia lahir. Ku dengar tangisan pertama putra yang sehat sempurna.

Nah, selesailah semua proses yang kulalui. Kini aku mulai dipindahkan ke ruangan yang siap untuk dijenguk. Dengan badan yang setengah mati rasa, aku masih belum berani untuk tidur. Karena masih takut akan keadaan ‘tiba-tiba’ itu terjadi. Bagaimana jika ‘tiba-tiba aku berhenti bernafas, bagaimana jika ‘tiba-tiba’ aku mati. Jujur,  aku sangat takut untuk mati. Dipikiranku tentu alasannya karena mereka, dua malaikat kecil pelengkap hidupku. Sebenarnya bukan ketakutan akan melahirkan yang kubayangkan tetapi ketakutan jikalau nanti kekurangan darah saat melahirkan dan ketakutan lain yang nantinya berakibat fatal pada kematian.

Ku sebut dia “Kayndra”. Anak laki-laki berjiwa kesatria dan penuh tanggung jawab. Ku sematkan nama ‘Kayndra’ tentu harapku padanya semoga menjadi doa untuk anak laki-laki’ku.

Pengalaman ini mengajarkanku dan banyak ibu lainnya yang melahirkan sesar, bahwa setiap proses kelahiran adalah sebuah perjuangan. Tidak ada jalan lahir yang lebih baik dari jalan lain. Yang terpenting adalah keputusan yang paling aman untuk ibu dan bayi. Aku menyadari pentingnya dukungan bagi para ibu yang mengalami operasi sesar. Jangan pernah membuat seorang ibu merasa malu atau tidak layak hanya karena melahirkan melalui operasi. Semua ibu berhak merasa bangga dengan kekuatan dan pengorbanan mereka demi kehidupan buah hati. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap operasi sesar, ada seorang ibu yang telah berjuang, menahan sakit, dan mengasihi tanpa batas untuk membawa hidup baru ke dunia.

Cerita ini masih berlanjut hingga ‘belah perut’ berikutnya. Karena berdasarkan konsultasi dengan dokter kandungan yang menangani proses ‘belah perutku’ yang kedua. Aku masih bisa melakukannya lagi hingga proses kali ketiga. Yaaaah… aku terima takdir hidupku. Aku bahagia menjadi ibu bagi mereka. Mereka memilihku melahirkan lewat jalan lain yang ku sebut jalan ninja. Selamat menikmati peran baru sebagai ibu dengan cinta dan kebahagiaan lewat operasi sesar, jalan ninjaku.

 

 

 

 

 

bersambung