By: Putu Gladistya Pradnya Putri
Musim dingin datang pada bulan Juni. Ia membelai daratan dengan hawanya yang dingin dan kering. Aroma bunga kopi semerbak menjadi ciri khas di desa di pegunungan kopi itu. Setidaknya itu adalah yang diketahui oleh Frio, musim dingin kali ini terasa lebih dingin dari biasanya. Tepat sehari sebelum tahun baru, Frio berdiri di tepian bukit yang gelap, mengenakan jaket tebalnya untuk melindungi diri dari suhu dingin yang seakan menusuk tulang. Anak muda itu sendirian, menatap langit sambil menangis. Neneknya baru saja dinyatakan meninggal di malam hari, tepat disaat dia berencana untuk merayakan ulang tahun dengannya.
Frio tidak menyesal akan kematian neneknya, karena neneknya memang sudah dirawat dirumah sakit sejak lama karena kanker. Jadi dia sudah tahu jika hari ini akan datang, dia sudah bersiap merelakan kematian neneknya. Namun ternyata emosi Frio tetap mengalahkannya, hari itu dia bersedih, nafasnya terisak karena menangis berjam-jam. Hari itu pikiran Frio seakan ditutupi awan gelap. Hari itu, Frio juga ingin mati. Musim dingin dan kepergian neneknya membuat hatinya dingin, seakan akan raga Frio perlahan ikut mati.
Sambil menatap kebawah tebing yang dia sendiri tidak tahu sedalam apa, Frio bertanya dalam hati. “Aku sendirian sekarang, aku tidak mau kesepian. Ayah, ibu dan sekarang nenek. Pada akhirnya semuanya meninggalkanku. Apa aku boleh ikut dengan mereka?”
Dia terdiam sejenak, lalu menatap kearah lampu kota yang terlihat samar dari tebing tempatnya berdiri. Hening. Semuanya hening dan sepi. Frio ingin melompat kebawah, ia ingin semua kesepian dan keheningan ini berhenti.
Tiba tiba smartphone Frio berdering, suara nada deringnya memecah keheningan. Frio terkejut, lalu terdiam sejenak mendengarkan nada dering dari telepon yang belum dia angkat. Suara lagu itu adalah lagu kesukaan Frio sejak kecil, lagu yang dinyanyikan ayah dan ibunya, salah satu peninggalan berharga sebelum kematian mereka. Seketika memori Frio saat kedua orang tuanya masih hidup mengisi pikirannya, matanya seakan bisa melihat senyum mereka berdua lagi. Frio kembali menangis, ia teringat keinginan kedua orang tuanya.
“Frio, ayah sama ibu pengen banget liat kamu tumbuh besar, liat kamu bahagia. Kalo bisa, kita pengen temenin kamu sampai tua nak.”
Frio melihat siapa yang meneleponnya, itu Kalida, sahabat masa kecilnya. Ia mengangkat telepon itu, tidak bisa mengatakan apapun karena ia masih menangis.
“Frio!? Kamu dimana nih?? Kamu gapapa kan? Aku denger nenekmu baru meninggal, kamu pasti sedih banget sekarang. Aku temenin ya?” Suara Kalida terdengar khawatir.
“…Di bukit t-tempat aku biasa melihat bintang.” Frio menutup teleponnya.
Tangisan Frio semakin menjadi-jadi, perasaannya bercampur aduk, karena tiba-tiba dia teringat bahwa banyak yang peduli dengannya, orang tuanya juga ingin melihatnya hidup bahagia. Frio merasa sangat payah karena barusan dia berpikiran untuk mengakhiri hidupnya, dia merasa sangat bodoh karena berpikir dia kesepian. Dia salah, walau orang tua dan neneknya sudah meninggal, ingatan indah dari mereka akan terus hidup di pikirannya.
Ditengah tenggelamnya Frio dalam pikirannya, Kalida datang dan memanggil Frio walau musim dingin memberikan salju yang menghalangi jalannya. Kalida langsung memeluk Frio yang sedang menangis ditepi tebing, Frio terkejut, lalu memeluk Kalida balik dengan erat. Kalida lalu membawa Frio kerumahnya, Kalida dan keluarganya menenangkan Frio yang sedang berduka.
Tujuh tahun kemudian, Frio sekarang adalah seorang pemuda yang sudah bekerja dan sukses di hidupnya. Tepat di malam tahun baru, dia datang lagi ke tebing tempatnya menangis dulu. Dia datang kembali di musim dingin, suhu dinginnya masih menusuk tulang, sama seperti saat itu. Namun kali ini semuanya sudah berubah, Frio yang kini adalah seseorang yang ingin tetap melanjutkan hidupnya. Ia membuat ingatan-ingatan dari orang yang ia sayangi sebagai kekuatannya menjalani hidup, dia kini bersyukur akan nyawa dan hidup yang dia miliki.
Musim dingin sasih karo tahun setelahnya memang tetap terasa dingin, semerbak aroma bunga kopi memang masih bertebaran harum baunya. Namun saat ini Frio merasa berbeda. Kini hati Frio tidak dingin lagi, namn malah terasa hangat ketika mengingat semua yang sudah ia jalani di hidupnya.