Oleh

Krisya Bawanti

Lembayung indah menyinari hari-hari yang sempurna

Menyisakan nyeri yang dalam dengan sekali gores ingatan

Mati…separuh jiwa tak mampu menopang raga dan ingatan

Perasaan bercampur ketika liku-liku kehidupan mulai dirasakan

Kisah romansa kita penuh kesan namun tak mampu diteruskan

 

Sore itu,

Coretan indah mengenai dua insan yang ada di kala asmaraloka

Menikmati hembusan Sang Agung menebar ke cakrawala

Pergi ke pesisir memandang Baskara yang terbenam

Indah, penuh warna menggaungkan keelokan Adiwarna

Tapi, sekali lagi itu hanya ungkapan semu semata

Yang tak pernah akan jadi nyata di realita.

 

Lagi dan lagi, mungkin indahmu menebarkan aroma cinta dan keharusan

Memberi kesan merona pada dunia

Sinarmu memicu ingatan akan masa lalu dan kau yang pernah ada dalam kehidupan

Kini, kau hilang bersama garis swastamita

Tinggalkan jejak abadi dengan romansa kenangan terukir nyata

Sinar yang memudar dan bayang-bayang senja seolah menjadi “penyampaian” kenangan yang tak terucap

Membawa kembali kenangan indah atas pertemuan yang telah lewat.

 

Tapi dunia ini tak meski bersahabat pada kita

Dia memilihmu sebagai peran utama dalam cerita.

Apa aku sanggup menghilangkan asmaraloka ini?

Kesan elok yang kurasakan dahulu kini berubah jadi hitam putih penghianat.

 

Tempat ini menjadi saksi kebahagiaan asmaraloka kita

Sungguh tak mampu ku jabarkan bagaimana garis ini

Semuanya telah sirna kala asmaraloka bergulir pelan mengikuti cakrawala.

Gelap…..

Kelam….

Malam….

Kejam…

Jika mereka semua membuat cerita baru

Maka kini aku hanya mengenang cerita yang telah pernah kita buat di masa lalu.