Oleh
Putu Devi Fridayani
Sejak diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia pada tahun 2021, Kurikulum Merdeka Belajar telah menjadi wacana yang memicu beragam diskusi di kalangan pendidik, orang tua, dan siswa. Gagasan utamanya adalah memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang mendorong kreativitas, inovasi, dan kemandirian.
Namun, kebebasan ini tidak luput dari tantangan. Kritik terhadap Kurikulum Merdeka Belajar sering kali menyoroti potensi hilangnya struktur yang dapat memengaruhi kedisiplinan siswa. Dalam sistem yang memberikan banyak kebebasan, muncul pertanyaan apakah para siswa dan guru mampu tetap menjaga fokus, tanggung jawab, dan kedisiplinan dalam belajar. Sebagai kurikulum yang relatif baru, keberhasilannya masih memerlukan kajian mendalam untuk menilai dampak positif maupun negatifnya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya kreatif tetapi juga berkarakter kuat. Dalam konteks ini, penting untuk mengeksplorasi sejauh mana Kurikulum Merdeka Belajar benar-benar mendorong kreativitas tanpa mengorbankan kedisiplinan. Apakah pendekatan ini menjadi solusi atas tantangan pendidikan abad ke-21, atau justru memunculkan masalah baru? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi dasar diskusi untuk mengevaluasi efektivitas Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia.
Dalam memahami posisi Kurikulum Merdeka Belajar, penting untuk membandingkannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Kurikulum 2013 (K-13). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang diperkenalkan pada tahun 2004, merupakan kurikulum yang menekankan pada pencapaian kompetensi siswa dalam tiga aspek utama: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. KBK dirancang untuk memastikan siswa memiliki kompetensi yang dapat diterapkan dalam konteks kehidupan nyata, dengan guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran. Namun, pelaksanaan KBK sering mengalami kendala karena kurangnya panduan teknis yang memadai, sehingga banyak guru kesulitan mengimplementasikan kurikulum ini secara efektif di berbagai daerah.
Dibandingkan dengan ketiga kurikulum sebelumnya, Kurikulum Merdeka Belajar, yang diluncurkan pada tahun 2021, menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan inovatif. Kurikulum ini menitikberatkan pada pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) untuk meningkatkan kreativitas, kemandirian, dan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan abad ke-21. Dalam hal kebebasan, Kurikulum Merdeka memiliki kemiripan dengan KTSP, tetapi memberikan ruang yang lebih besar bagi siswa dan guru untuk menentukan arah pembelajaran. Berbeda dengan KBK, KTSP, dan K-13 yang memiliki struktur dan panduan lebih terstandarisasi, Kurikulum Merdeka berpotensi menghadirkan tantangan dalam hal kedisiplinan karena tidak semua guru dan siswa mampu memanfaatkan kebebasan ini dengan optimal.
Mendorong Kreativitas melalui Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka Belajar dirancang untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif, yang menjadi kunci sukses di abad ke-21. Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan menemukan solusi inovatif atas masalah nyata. Guru tidak lagi hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi menjadi fasilitator yang mendukung eksplorasi siswa.
Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi siswa untuk menggali minat dan bakat mereka secara mendalam, yang sering kali tidak dapat dilakukan dalam kurikulum yang terlalu kaku. Sebagai contoh, proyek-proyek berbasis masalah di bidang sains atau seni memungkinkan siswa untuk mempraktikkan teori sekaligus mengembangkan keterampilan kreatif mereka. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka membuka peluang bagi siswa untuk menjadi individu yang inovatif dan mandiri.
Tantangan dalam Menjaga Disiplin
Meskipun mendorong kreativitas, Kurikulum Merdeka juga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi melemahnya disiplin siswa. Dalam sistem yang memberikan kebebasan lebih besar, ada risiko siswa kehilangan arah jika tidak diberikan panduan yang memadai. Kebebasan tanpa batasan yang jelas dapat mengurangi rasa tanggung jawab dan keteraturan, yang merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter.
Selain itu, tidak semua guru memiliki kesiapan atau kompetensi untuk memanfaatkan kebebasan kurikulum secara efektif. Dalam kondisi ini, guru yang kurang terampil dalam manajemen kelas dan pembelajaran berbasis proyek dapat menghadapi kesulitan menjaga kedisiplinan siswa. Hal ini berpotensi menciptakan ketidakseimbangan antara kebebasan dan kontrol, terutama di sekolah-sekolah dengan sumber daya yang terbatas.
Implikasi bagi Sistem Pendidikan
Penerapan Kurikulum Merdeka membutuhkan upaya yang serius dalam meningkatkan kompetensi guru dan infrastruktur pendidikan. Pelatihan intensif bagi guru harus menjadi prioritas untuk memastikan mereka mampu menjalankan peran sebagai fasilitator yang efektif. Selain itu, perlu ada sistem evaluasi yang memastikan bahwa kebebasan yang diberikan tetap terarah dan disiplin siswa tetap terjaga.
Selain itu, pendekatan yang terstandarisasi dalam pengawasan dan penilaian siswa diperlukan untuk menjaga konsistensi. Penilaian yang terlalu longgar dapat mengaburkan tujuan pendidikan, sementara penilaian yang terlalu kaku dapat mereduksi potensi kreativitas siswa. Oleh karena itu, keseimbangan antara kreativitas dan disiplin harus menjadi fokus utama dalam implementasi kurikulum ini.
Terdapat pemecahan masalah atau solusi atas isu pada topik kali ini. Meskipun memberikan kebebasan, guru tetap harus menyertakan elemen yang mengajarkan keterampilan manajemen waktu, tanggung jawab, dan ketekunan. Pendekatan berbasis proyek yang menggabungkan kreativitas dan kedisiplinan, seperti menyusun jadwal dan evaluasi diri, bisa menjadi solusi yang efektif. Selain itu, pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab dan kedisiplinan tetap harus menjadi bagian integral dari kurikulum, meskipun siswa diberikan kebebasan dalam memilih cara belajar. Siswa perlu diingatkan bahwa kebebasan tersebut harus dilandasi dengan tujuan yang jelas dan terstruktur, dan evaluasi kedisiplinan bisa dilakukan melalui observasi dan refleksi pribadi.
Untuk memastikan kreativitas siswa tidak mengorbankan disiplin, penting pula untuk memberikan pelatihan bagi guru agar mereka dapat menyeimbangkan antara kebebasan dan pengawasan. Guru perlu dilatih untuk merancang pembelajaran berbasis proyek yang mendorong kreativitas tetapi tetap terstruktur dengan baik. Teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kedisiplinan siswa, seperti aplikasi manajemen tugas yang membantu siswa mengatur waktu belajar mereka dengan lebih efisien. Selain itu, evaluasi yang holistik, yang tidak hanya berfokus pada ujian, tetapi juga pada perkembangan kreativitas dan disiplin siswa, dapat memastikan siswa tetap bertanggung jawab atas proses pembelajaran mereka. Penilaian formatif dan sumatif yang seimbang dapat memberikan umpan balik yang konstruktif mengenai pencapaian siswa dalam kedua aspek tersebut.
Kurikulum Merdeka Belajar juga perlu melibatkan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Workshop untuk orang tua dan masyarakat bisa menjadi wadah untuk memperkenalkan konsep Merdeka Belajar dan bagaimana mereka dapat berperan dalam mendukung pengembangan kreativitas dan kedisiplinan siswa di luar kelas. Dengan berbagai solusi ini, diharapkan Kurikulum Merdeka Belajar dapat menciptakan keseimbangan yang optimal antara kebebasan kreatif dan pentingnya kedisiplinan dalam pendidikan.
Dari semua paparan pada tulisan ini, dapat diimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar menghadirkan paradigma baru dalam pendidikan yang berorientasi pada kebebasan dan kreativitas. Namun, kebebasan ini juga menghadirkan tantangan dalam menjaga kedisiplinan siswa dan konsistensi pelaksanaan. Esai ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan struktur dalam pendidikan untuk memastikan siswa tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga disiplin dan bertanggung jawab.
Sebagai saran, pemerintah perlu menyediakan program pelatihan intensif bagi guru, terutama terkait pembelajaran berbasis proyek dan manajemen kelas yang efektif. Selain itu, penting untuk menciptakan panduan yang jelas dalam penerapan kebebasan di Kurikulum Merdeka agar guru dan siswa dapat mengoptimalkan manfaatnya tanpa kehilangan arah. Evaluasi rutin terhadap dampak kurikulum ini di berbagai wilayah juga harus dilakukan untuk memastikan keselarasan dengan tujuan pendidikan nasional. Dengan langkah-langkah ini, Kurikulum Merdeka dapat menjadi solusi untuk membentuk generasi yang kompeten, kreatif, dan tetap disiplin di era globalisasi.