Oleh Krisya Bawanti

 

Ini tentang tawa yang tak hilang ketika diselimuti duka

Tentang tawa yang tetap ada walau rasa sakit hadir lebih lama

Juga tentang tawa yang selalu memberi cerita meski dalam dekapan raga,

 

Yaaaa….

Ini tentang tawa yang tak hilang walau di benci oleh saksi dunia

Tentang tawa yang tetap ada walau sepi menyelimuti rasa

Juga tentang tawa yang selalu memberi makna

 

Ketika hanya tawa yang tertinggal

Apakah itu juga harus dikorbankan?

Ketika hanya tawa yang tertinggal

Apakah itu adalah dosa paling besar?

 

Ketika pilihan terbaik untuk bertahan adalah tawa

Apa juga harus dilepaskan?

Lantas dimana lagi bahagia?

Semua itu hanya pura-pura semata yang seakan-akan membodohi hati dan perasaan

 

Pertahananku adalah tawa bodoh

Yang tetap ada walau diriku remuk, lebam tanpa pengabulan

Sayangnya luka membawa lebih banyak perasaan

Aku lupa caranya kembali bahagia

Bahagiaku hilang terbawa raganya.

Aku bingung caranya untuk kembali tertawa

Yang ku punya hanya lengkung tipis yang begitu manis.

Yang ku punya hanya kenangan lewat dokumentasi sebagai penglaris.

 

Bukan karna rupa yang rupawan

Bukan karna rupa yang menawan

Tapi tentang lengkung tipis yang tetap ada

Walau diri begitu sakit menerima duka semesta

Hingga hal terakhir yang dapat ku berikan adalah lengkung manis sebagai topeng yang beri pertanda bahwa diri terluka

Tapi harus bersikap baik-baik saja.