Oleh Gede Febriana Yoga, S Pd.

Kurikulum merdeka sudah mulai diterapkan secara serentak di Indonesia mulai tahun 2024 sesuai Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 yang menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kerangka dasar dan struktur kurikulum untuk seluruh satuan pendidikan di Indonesia. Artinya pada tahun 2024 merupakan tahun diterapkannya kurikulum merdeka di satuan pendidikan dari jenjang  SD sampai tingkat SMA secara menyeluruh dari Sabang sampai Merauke. Kurikulum merdeka adalah perubahan dari kurikulum 2013 yang sebelumnya sudah diterapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Hal yang memang ditonjolkan dalam kumer adalah peningkatan otonomi dan motivasi siswa.  Motivasi intrinsik ini sangat penting untuk membina pembelajar seumur hidup yang lebih mungkin untuk mengejar pengetahuan di luar kelas. Selain itu, kurikulum merdeka mendorong peningkatan keterlibatan dan kepemilikan pembelajaran, siswa yang berpartisipasi dalam inisiatif pembelajaran berbasis proyek melaporkan perasaan lebih terhubung dengan pekerjaan mereka, karena mereka dapat menyesuaikan proyek mereka untuk mencerminkan minat dan bakat mereka. Lebih jauh, kurikulum merdeka membantu dalam pengembangan pemikiran kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Dengan terlibat dalam proyek yang diarahkan sendiri, siswa ditantang untuk berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan merancang solusi kreatif untuk masalah yang kompleks. Pendekatan pembelajaran eksperiensial ini tidak hanya mempersiapkan siswa untuk meraih keberhasilan akademis, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan penting yang dibutuhkan untuk dunia kerja, di mana kemampuan beradaptasi dan inovasi sangat dihargai. Kelebihan kurikulum merdeka terlihat dari penerapan pembelajaran berdeferensiasi dalam kurikulum merdeka sebagai pembelajaran dengan menerapkan berbagai metode variatif untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pembelajaran berdeferensiasi bisa diterapkan pada deferensiasi konten, proses dan produk, jadi guru diberikan kebebasan memilih metode pembelajaran menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Deferensiasi konten lebih menukik pada perbedaan materi pembelajaran yang bisa diberikan sesuai kemampuan dan kebutuhan siswa. Deferensiasi proses menekanakan pada proses pembelajaran siswa yang berbeda seperti proses pemahaman siswa bisa maksimal karena proses membaca, proses mendengar dan proses melihat dan mendengar. Deferensiasi produk menekankan pada hasil dari pembelajaran menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan  siswa sesuai mata pelajaran yang diajarkan. Hal yang menjadi kelebihan kurikulum merdeka lainnya yaitu penerapan pembelajaran sosial emosional yang didalamnya terdapat maindfullness (kesadaran penuh), penerapan ice breaking, kompetensi sosial emosional yang terdiri dari kesadaran diri, manajemen diri,  kesadaran sosial, kemampuan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran coaching yang bisa diterapkan guru untuk mengembangkan potensi dari siswa, guru bisa menggali siswa dari prestasi ataupun kekurangan yang dimilki siswa. Coaching ini bisa digunakan untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi berdasarkan niat dan keinginan siswa yang bersangkutan tanpa paksaan.

Terlepas dari kelebihannya, kurikulum merdeka dalam penerapannya di lapangan tidak seperti yang dibayangkan, banyak ketidaksesuaian yang terjadi. Siswa  secara tidak sengaja mengabaikan konsep-konsep mendasar yang penting untuk perkembangan akademis mereka. Seorang siswa atau murid yang hanya berfokus pada proyek yang disukai terkait dengan seni dapat kehilangan keterampilan matematika yang penting, yang menyebabkan kesulitan dalam mata pelajaran yang membutuhkan pengetahuan dasar. Risiko ini semakin diperparah oleh kemungkinan mata pelajaran penting diremehkan atau diabaikan dalam kerangka kerja merdeka. Dalam beberapa kasus, sekolah mungkin memprioritaskan proyek yang dipimpin siswa dengan mengorbankan kurikulum standar, yang dapat mengakibatkan pengalaman pendidikan yang tidak merata. Selain itu, ada ketidakkonsistenan yang mengkhawatirkan dalam standar pembelajaran di berbagai lembaga yang mengadopsi kurikulum merdeka. Sementara beberapa sekolah mungkin menerapkan penilaian dan pedoman yang kuat, yang lain mungkin tidak memiliki sumber daya atau keahlian yang diperlukan untuk memastikan bahwa siswa menerima pendidikan yang menyeluruh. Variabilitas ini dapat menciptakan kesenjangan dalam kesiapan siswa, yang pada akhirnya memengaruhi daya saing mereka dalam pendidikan tinggi dan pasar kerja.

Dari sisi oknum siswa, kurikulum merdeka diangap remeh karena pada kurikulum merdeka siswa pasti naik kelas. Walaupun mereka tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, jarang hadir di sekolah dengan berbagai alasan termasuk sering bolos, tidak melengkapi tugas-tugas. Hal ini sangat berdampak terhadap moral dan etika siswa terhadap guru yang cendrung tidak peduli dan bahkan mereka lebih tidak hormat kepada gurunya. Orang tua juga seakan-akan membela anak mereka, sehingga cendrung menyalahkan guru di sekolah. Tidak hanya orang tua juga banyak politikus yang memanfaatkan suasana di sekolah untuk meraup suara dalam menduduki kursi politik. Alibinya ingin berpihak pada murid, tetapi malah membuat siswa tidak disiplin, malah akhinya banyak siswa melapor ke oknum tersebut melaporkan hal sepele yang dibesar-besarkan. Bahkan langsung disidak kesekolah tanpa mencari informasi yang lebih mendalam, kenyataannya siswa tersebut tidak mengikuti aturan yang ada disekolah dan bahkan sudah sering diperingatkan oleh pihak sekolah. Masalah rambut menjadi dilema bagi semua guru, khususnya WASPIMBRI yang menjadi enggan menindak siswa laki yang memiliki gaya rambut gondrong. Bahkan kasus mencukur rambut ini disebar dimedia sosial oleh oknum politikus yang membuat karisma guru menurun drastis. Sebelum mengambil Tindakan setiap instansi sekolah sudah memberikan pemberitahuan untuk mencukur rambut karena akan akan dicukur karena tidak sesuai aturan dan aturan ini sudah disetujui oleh wali murid di awal tahun masuk sekolah. Kurikulum merdeka menjadi polemik bagi siswa yang kurang memiliki semangat belajar bahkan menjadi hal yang kurang mendidik bagi mereka. Berbeda dengan siswa yang memiliki semangat belajar tinggi, mereka malah sangat menikmati pembelajaran.

Menurut pendapat saya kurikulum merdeka sangat bagus diterapkan dalam lingkungan sekolah tetapi ada beberapa penekanan yaitu agar system berjalan baik perlu diikuti dengan penambahan tenaga pendidik serta mengurangi beban dari guru. Beban mengajar guru disini perlu disinkronkan dengan aplikasi dapodik, karena syarat dapodik guru memiliki minimal beban 24 jam mengajar per minggu. Untuk memaksimalkan manfaat kurikulum merdeka sekaligus mengurangi kekurangannya, pendekatan yang seimbang sangat penting. Keseimbangan ini mengharuskan pentingnya bimbingan terstruktur di samping kemandirian. Pendidik memainkan peran penting dalam memfasilitasi dan membimbing siswa saat mereka mengikuti perjalanan pembelajaran yang disesuaikan. Dengan memberikan dukungan dan sumber daya, guru dapat membantu siswa menghubungkan proyek merdeka, mereka dengan mata pelajaran inti, memastikan pemahaman yang komprehensif tentang pengetahuan penting. Misalnya, seorang guru sains dapat membimbing siswa dalam menggabungkan metode ilmiah ke dalam proyek merdeka mereka, memperkuat konsep-konsep penting sekaligus memungkinkan kreativitas. Selain itu, mengintegrasikan mata pelajaran inti dalam proyek merdeka dapat menumbuhkan pengalaman pendidikan holistik. Dengan merancang tugas yang mengharuskan siswa untuk menerapkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, pendidik dapat membantu menjembatani kesenjangan antara kemandirian dan pembelajaran penting. Integrasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar tetapi juga memperkuat relevansi mata pelajaran inti, menunjukkan penerapannya dalam konteks dunia nyata. Pada akhirnya, pendekatan kolaboratif yang menggabungkan otonomi siswa dengan bimbingan terstruktur dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih seimbang dan efektif.

Menurut pengamatan saya, sebaiknya dalam penerapan kurikulum merdeka perlu kolaborasi lebih dengan orang tua yang dibuktikan dengan penandatanganan surat persetujuan penerapan disiplin disekolah. Sekolah jangan terlalu bebas memberikan keleluasan siswa dari penegakan disiplin baik dari kehadiran, cara berpakaian, dan bersikap di sekolah. Walaupun memerdekakan siswa di bidang akademik tetapi perlu juga menjaga kedisiplinan di sekolah secara konsisten dengan menerapkan hukuman yang masih manusiawi. Hukuman atau punihsment sangat penting untuk selalu diterapkan di lingkungan sekolah, karena jika tanpa hukuman niscaya akan banyak siswa makin menjadi-jadi kelakuannya di sekolah. Berdasarkan kasus yang saya amati di sekolah siswa yang diberikan kebebasan dengan kemampuan menengah kebawah biasanya cendrung menjadi siswa yang tidak bertanggung jawab, maka dari itu juga sekolah jangan takut memberikan siswa belajar lebih lama (lebih dari 3 tahun) untuk memahami pembelajaran sesuai konsep deep learning yang akan diterapkan oleh Menteri Pendidikan bapak Abdul Muti. Intinya penerapan kurikulum merdeka menurut pendapat saya, sangat baik diterapkan selama bisa merivisi hal-hal yang kurang tepat seperti penerapan kelonggaran dalam penerapan hukuman menjadi lebih konsisten untuk diterapkan yang tentunya juga harus diimbangi perlindungan terhadap guru.  Guru tidak mungkin menyiksa muridnya, guru hanya ingin mendidik  Tentunya hal positif ini akan menjadi menjadi hal yang lebih bermakna dan berguna untuk masa depan siswa baik di dunia perguruan tinggi ataupun dunia kerja dan lingkungan masyarakat.