Oleh: Ni Made Delia Prastiwi Maharini Putri

 

“Tidak ada budaya yang bisa hidup jika berusaha menjadi ekslusif.”

Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama dan adat istiadat. Tidak hanya itu, wilayah Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan ciri khas yang membedakan antara satu sama lain. Bali, adalah salah satu Pulau dengan ribuan adat yang menjadikannya laboratorium budaya yang hidup. Terlahir dan besar di Pulau Dewata ini, begitu banyak warisan baik harta benda maupun non-benda yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Hal tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Pemerintah bersama masyarakat Bali. Indonesia juga terkenal dengan sumber daya hayati yang sangat melimpah. Masyarakat tentu tidak membuang kesempatan tersebut dan memanfaatkan alam Indonesia untuk bahan Pangan, Sandang, Papan, termasuk pengobatan Tradisional. Namun, apakah sudah semua Tradisi dilestarikan dan disesuaikan dengan arus perkembangan zaman?

Sejak dulu, masyarakat Bali memiliki cara tersendiri dalam mengatasi kondisi tubuh yang menurun, yaitu dengan Meboreh atau menggunakan Boreh. Boreh merupakan obat Tradisional dari rempah-rempah yang dihaluskan kemudian dibalurkan ke tubuh. Tradisi Boreh ini telah mengakar di Bali sejak abad ke-13, dibawa dan dilestarikan oleh keturunan bangsawan Majapahit, dan disimpan dalam Lontar Taru Pramana. Bagi masyarakat, Boreh digunakan untuk memberikan kehangatan pada tubuh dan banyak dikembangkan untuk bahan herbal tradisional Bali. Boreh Anget atau Boreh Hangat terbuat dari kunyit, jahe, cengkih, pekak maupun lada hitam membuat badan terasa hangat serta otot menjadi rileks. Berbeda dengan jenis Boreh lainnya, seperti Boreh Miyik atau Boreh Harum yang terbuat dari berbagai jenis bunga dan Boreh Tis atau Boreh Sejuk yang terbuat dari berbagai sayur dan buah yang terfokus untuk merawat kecantikan kulit. Racikan-racikan inilah yang dipakai di keseharian masyarakat Bali, juga menjadi bagian dari ritual persiapan pernikahan dan perawatan ibu setelah melahirkan.

Namun, seiring dengan dinamika globalisasi yang terus berkembang, dunia kesehatan terutama dalam bidang pengobatan mengalami peningkatan yang signifikan. Masyarakat kini memiliki pendekatan yang lebih beragam dalam mengatasi masalah kesehatan. Meboreh bukan lagi menjadi solusi utama yang dipilih. Masyarakat cenderung lebih memilih pengobatan dan perawatan konvensional dibandingkan Boreh karena anggapan bahwa Boreh kurang relevan dengan kehidupan modern. Proses pembuatannya tentu memerlukan tenaga yang juga akan memakan waktu, tak jarang Boreh yang ditumbuk atau diayak masih menghasilkan tekstur kasar sehingga membuat penggunanya kurang nyaman. Boreh yang biasanya dipakai pun memiliki aroma rempah-rempah kuat yang tidak semua orang menyukainya. Jika dibiarkan, Boreh dan tradisi Meboreh akan hilang tergerus zaman.

Sebagai generasi muda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar Boreh tetap bertahan sesuai dengan harapan nenek moyang pendahulu kita. Bukan hanya mengevaluasi kekurangan, tetapi juga berinovasi dengan kelebihan di sekitar. Pulau Bali yang kian ramai dijadikan destinasi wisata, bisa menjadi sarana untuk mempromosikan kembali tradisi Boreh. Boreh dapat dihadirkan berbentuk serbuk dalam kemasan tanpa menghilangkan khasiat alaminya. Beberapa komunitas seperti Spa telah berupaya dalam hal tersebut, namun pengintegrasiannya masih belum optimal. Bercermin dari kegagalan, racikan boreh dapat ditambahkan dengan pewangi alami yang setidaknya dapat mengurangi aroma menyengat dari rempah-rempah, seperti kayu manis, vanili, atau rosemary. Selain itu, pengemasan Boreh juga perlu diperhatikan. Kemasan harus melindungi boreh dari kelembaban, sinar matahari dan kontaminasi dunia luar untuk menjaga kualitasnya. Material dan desain kemasan dapat mengambil inspirasi dari budaya Bali serta harus memuat informasi lengkap tentang produk, seperti kemasan dari bambu yang ramah ingkungan dan memiliki nilai estetika. Inilah magnet yang akan menarik wisatawan asing nantinya. Boreh dalam kemasan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya Bali, tetapi juga memberikan dampak positif pada perekonomian lokal.

Boreh bukan hanya sekedar ramuan herbal, tapi cerminan kekayaan budaya Nusantara. Dengan berbagai khasiat, Boreh telah membuktikan dirinya sebagai solusi alami untuk berbagai keluhan kesehatan sejak zaman dahulu. Namun penting untuk diingat bahwa Boreh digunakan sebagai pelengkap pengobatan medis, bukan penggantinya. Dengan Inovasi pada bahan, pengolahan, kemasan dan pemasaran, Boreh dapat menjadi produk unggulan seperti produk hasil budaya Bali lainnya yang telah mendunia serta menjadi bagian dari budaya yang inklusif dan terus berkembang. Dengan melestarikan tradisi penggunaan boreh, kita turut menjaga kelestarian budaya bangsa.