Oleh I Made Pastika, S.Pd
Hingga kini rendahnya mutu Pendidikan masih merupakan masalah yang relatif sulit diatasi. Kualitas Pendidikan itu sesungguhnya sangat ditentukan oleh kualitas pembelajaran. Dan katanya, kualitas pembelajaran semakin baik jika difasilitasi oleh guru-guru hebat. Lantas apakah semua guru ingin dan bisa menjadi guru hebat? Tentu saja iya, namun senyatanya keinginan dan harapan itu sering kali pupus karena adanya berbagai hambatan dan kendala dalam proses pembelajaran. Persoalan ini, jika tidak dikelola dengan baik, akan memicu timbulnya permasalahan yang berimplikasi terhadap gagalnya proses pembelajaran. Bila murid gagal dalam proses belajarnya, maka gagal pula dalam hasil belajarnya.
Para guru hebat seyogyanya memiliki berbagai kompetensi sesuai dengan yang dipersyaratkan. Salah satunya adalah mampu memotivasi dan memberikan inspirasi kepada para murid. Mereka dituntut oleh profesinya, tidak hanya terampil mengajar tetapi juga terampil dalam mengelola kelas. Namun kenyataannya, masih ada kecendrungan proses pembelajaran yang kurang efektif, dimana keterampilan mengelola kelas tidak terintegrasi secara elegan dengan keterampilan mengajar. Hal ini membuat aktivitas pembelajaran menjadi kaku, tegang, tidak menarik, tidak menyenangkan, bahkan tidak bermakna. Pada akhirnya, atmosfer seperti ini menyebabkan kebosanan dan kejenuhan bagi murid maupun guru.
Pembelajaran membosankan dan menjenuhkan akibat suasana kurang kodusif niscaya memunculkan perilaku negatif murid dalam mengikuti proses pembelajaran. Secara kasat mata dapat dilihat ketegangan, stres, dan ketidaknyamanan murid selama mengikuti proses pembelajaran (Darmansyah, 2012). Reaksi yang terlihat adalah mengantuk, kehilangan motivasi, ijin keluar kelas, ngobrol dengan teman dan lain-lain. Bahkan kebosanan dan kejenuhan itu dilampiaskan dengan mengganggu teman dan perlawanan kepada guru yang sedang mengajar. Dengan kata lain, kebosanan dan kejenuhan itu berdampak negatif terhadap capaian kualitas proses maupun hasil belajar murid.
Indikasi lain dari kebosanan dan kejenuhan belajar murid adalah adanya gelagat yang tidak baik di dalam kelas seperti eksisnya rasa senang ketika jam bebas, terdengarnya sorak-sorai apabila pada jam tertentu tidak ada yang mengajar, serta lebih jauh lagi tidak belajar dianggap sebuah keberuntungan yang patut disyukuri. Penelitian Nirwana dalam Darmansyah (2012) mengungkapkan bahwa banyak murid yang bolos sebelum pembelajaran berakhir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada kaitan antara kejenuhan belajar dan prestasi belajar murid. Semakin jenuh seseorang terhadap suatu mata pelajaran, semakin rendah motivasinya untuk mengikuti pelajaran tersebut, maka semakin buruk prestasi belajarnya.
Bertautan dengan ilustrasi di atas, pengelolaan kelas bernuansa humor seharusnya menjadi salah satu strategi pembelajaran yang dipilih dan digunakan untuk mengatasi kejenuhan murid dalam pembelajaran. Saya meyakini bahwa penerapan strategi ini bisa menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan. Pembelajaran menyenangkan akan tercipta apabila murid merasa senang. Hal ini terjadi jika interaksi dan komunikasi dengan gurunya penuh keakraban, saling menghargai, dan penuh tawa. Selanjutnya, humor yang membuat murid tertawa dan merasa senang ternyata memilik banyak keunggulan.
Pertama, humor memiliki efek positif bagi kesehatan. Dengan selingan humor, guru memberikan peluang kepada murid untuk bergembira. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Hati yang gembira membuat wajah berseri-seri. Orang yang memiliki hati gembiralah yang memiliki senyum yang sehat (Amsal dalam Situmorang, 2013). Jadi, ada rahasia kesehatan yang diperoleh murid tatkala hati mereka gembira. Tubuhnya akan mengalami relaksasi sehingga memperlancar peredaran darah ke seluruh organ dan bagian-bagiannya.
Kedua, humor bisa digunakan untuk membuka peluang perkenalan. Artinya, guru dapat memperkenalkan dirinya sebagai humoris melalui sisipan humor. Sisipan humor ini bisa dijadikan jembatan untuk membuka hubungan dengan murid (Lasut, 2014).
Ketiga, humor dapat digunakan untuk ice breaking. Oleh karena mampu mencairkan suasana, humor berkontribusi mengubah suasana yang beku sebelumnya menjadi cair kembali. Humor yang tidak pernah usang, humor yang bisa menimbulkan tawa akan menimbulkan keceriaan baik bagi guru maupun murid. Seorang guru yang mengantarkan materinya dengan berhumor, mampu mencairkan suasana kelas menjadi menyenangkan (Ambarwati, 2017). Dengan kata lain, humor sangat bermanfaat pada saat murid mengalami ketegangan dan kebuntuan yang diakibatkan oleh pelajaran sulit pada sesi sebelumnya.
Keempat, humor dapat meningkatkan kegairahan dan motivasi murid dalam pembelajaran. Semangat dan motivasi belajar murid sangat dipengaruhi secara positif terutama pada saat mereka mengalami penurunan konsentrasi. Hal-hal yang menggembirakan dan suasana sukacita itu membuatnya lebih bersemangat lagi dalam melakukan berbagai hal (Situmorang, 2013). Atmosfer belajar yang menyenangkan dengan selingan humor menjadi pemacu bagi murid untuk mengoptimalkan produktifitas belajarnya di berbagai mata pelajaran. Suasana gagal fokus tidak akan terjadi berkepanjangan karena bersukacita dalam pembelajaran memberikan aura positif dan semangat baru.
Kelima, humor dapat meningkatkan curiuosity and creativity. Guru humoris dan kemampuannya menggunakan berbagai sumber untuk menciptakan suasana menyenangkan membuat murid lebih kreatif. Sehingga ruang kelas merupakan lingkungan yang hidup dan penuh tawa untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Dengan humor, wajah murid memancarkan kesenangan yang luar biasa sehingga mereka semakin ingin tahu, semakin kreatif dalam bertanya, berdiskusi, dan menjawab berbagai pertanyaan. Loomas dan Kolberg dalam Darmansyah (2012) menyatakan bahwa sisipan humor yang menciptakan kesenangan belajar penuh tawa akan meningkatkan keingintahuan murid dan mendorong mereka lebih kreatif.
Keenam, humor sebagai penanda tingkat kecerdasan. Modal humor yang sesungguhnya adalah kecerdasan. Tanpa kecerdasan, humor yang berkualitas tidak akan pernah kita jumpai. Ia akan kering dan cenderung garing. Ketika murid tersenyum atau tertawa, otaknya menerima suplai darah yang memadai sehingga memudahkan mereka berpikir dan memproses informasi, kemudian menyimpan informasi baik dalam memori jangka pendek maupun jangka panjang. Informasi yang masuk ke dalam otak memori yang melibatkan emosi secara mendalam, akan memudahkan mereka untuk mengingat kembali saat diperlukan. Jadi, semakin tinggi selera humor seseorang, semakin tinggi pula tingkat kecerdasannya (Alniezar, 2019).
Ketujuh, selingan humor dapat mengurangi rasa bosan dan lelah di kalangan murid. Rasa bosan dan lelah adalah manusiawi bagi setiap orang, termasuk murid itu sendiri. Selingan humor yang diberikan oleh guru pada jeda-jeda strategis dalam proses pembelajaran niscaya mampu meredam kebosanan dan kelelahan yang dialami oleh murid. Taufan (2018) mengatakan bahwa humor adalah suatu cara terbaik untuk membuat materi pelajaran yang membosankan menjadi lebih menarik bagi murid dan guru. Tentu saja dalam pelajaran yang menarik akan membuahkan hasil belajar yang lebih baik.
Kedelapan, humor dapat mengurangi tekanan atau stres. Dengan humor, terdapat peluang emas bagi guru agar bisa diterima oleh murid menjadi teman belajar mereka. Guru menjadi lebih mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka yang mengalami tekanan atau stres akibat beban belajar yang berlebihan. Menurut Abdullah (2007), penggunaan humor dalam pembelajaran dapat mengurangi tekanan, memperbaiki suasana pembelajaran, menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik perhatian murid, serta meningkatkan interaksi antara guru dengan murid. Samrin dan Syahrul (2021) juga mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran yang optimal hendaknya terjadi komunikasi dua arah atau lebih antara guru dengan murid, dengan berbagai kemungkinan interaksi.
Kesembilan, sisipan humor dapat menghilangkan kejenuhan belajar. Agar humor yang digunakan efektif, langkah awal yang harus dilakukan guru pada pertemuan pertama adalah mencitrakan dirinya sebagai orang yang humoris, tidak pemarah, mudah diajak bicara, tidak mudah tersinggung, dan demokratis. Penggunaan jenis humor dalam pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga dapat menghilangkan rasa bosan berlebihan atau kejenuhan murid dalam pembelajaran (Sheinowitz dalam Taufan 2018). Selanjutnya Sheinowitz merekomendasikan waktu yang tepat untuk menggunakan sisipan humor dalam pembelajaran yakni (1) pada awal pertemuan, (2) saat jeda strategis, dan (3) pada akhir pembelajaran.
Kesepuluh, cerita humor dapat digunakan untuk mengajarkan kebenaran. Cerita humor tersebut bisa dipakai sebagai ilustrasi untuk memperjelas pengajaran. Bahkan kebenaran yang sangat keras dapat disampaikan tanpa membuat murid mengalami ketersinggungan. Kebenaran yang disampaikan melalui cerita humor lebih mudah diterima dan diingat oleh mereka semua.
Dan kesebelas, humor dapat menambah popularitas. Popularitas itu juga penting bagi guru. Agar lebih keren dan populer, guru sebaiknya humoris. Guru yang terlihat siap mengapresiasi humor, secara umum lebih populer di kalangan murid. Ambarwati (2017) mengemukakan bahwa guru yang mendapat apresiasi sebagai guru favorit dari muridnya merupakan pribadi yang disukai dan mendapat tempat yang layak di dalam kelas.
Memang tidak mudah untuk menjadi guru humoris. Seorang guru humoris sudah pasti akan kehilangan karisma dan kewibawaan. Dia tidak boleh menjadi orang yang fanatik, dia harus bijak dalam memilih jenis humor sehingga tidak terkesan jorok atau porno. Humor verbal, karikatur humor, atau kartun humor yang dipilih hendaknya bersifat kontekstual dan mendidik.
Akhirnya, saya harus mengatakan bahwa guru sebaiknya belajar humor agar lebih terampil dalam mengajar dan mengelola kelas. Dan pengelolaan kelas bernuansa humor pada hakikatnya adalah strategi pembelajaran menyenangkan yang layak dijadikan sebagai pilihan. Dengan berbagai kekuatannya, strategi ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan Pendidikan.
GURU MENJADI “GROWTH MINDSET COACH” BAGI PESERTA DIDIK
1.SITUASI
Growth mindset identic dengan pembentukan Karakter. Peserta didik di SMAN 1 Banjar kebanyakan memiliki karakter yang lemah, mudah menyerah, kesulitan menghadapi tantangan hidup, mudah stress dan masih banyak hal lain terkait karakter yang rapuh. Guru sebagai pendidik menjadi bagian yang strategis dalam menumbuhkan mindset peserta didik untuk menjadi pribadi yang optimis dan kuat dalam menghadapi tantangan. Masa depam mereka sangat ditentukan oleh pola pikir dalam menghadapi situasi dan lingkungan.
Ada dua jenis mindset peserta didik yaitu : 1. Growth mindset, 2. Fixed mindset
Para guru mesti mengetahu dan memahami ciri-ciri dari 2 kondisi mindset yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik dengan demikian guru dapat melatih dan membina mereka disela-sela kegiatan proses pembelajaran dilaksanakan. Adapun ciri-ciri growth mindset adalah: a).Positif dalam bersikap terhadap sebuah kejadian, cara menghadapi masalah,dan cara untuk membengkitkan diri sendiri pada saat harus menerima kegagalan dan terpuruk.b).Dalam keseharian terlihat dalam bentuk “karakter” non –kognitif: kegigihan,ketekunan,ketangguhan, dan sejumlah sifat-sifat positif lainnya.Sedangkan Fixed mindset memiliki ciri-ciri sbb: a) menghindar dalam menghadapi masalah,mudah menyerah,tidak memanfaatkan peluang,tantangan dipandang sebagai serangan dan ancaman.
Kenyataan yang sering kita hadapi di sekolah, tidak sedikit peserta didik yang sering tlat masuk sekolah karena tidak bisa bangun pagi dan alasan lainnya, volos karena tidak menyukai salah satu mata pelajaran, dll perilaku yang menyimpang.
- TANTANGAN
Kita semua tahu dan memahami bahwa Guru sebagai pekerjaan professional yang bergelut di dalam membina,melatih dan membimbing peserta didik, dalam melaksanakan tugas guru bukan hanya sebagai pengajar yang bertugas hanya mentrasfer ilmu pengetahuan yang bersifat akademik, melainkan lebih dari sekedar mengajar tapi didalamnya ada unsur melatih dan mendidik yang nantinya mampu membentuk setiap peserta didik menjadi pribadi seutuhnya. Namun demikian belum semua guru mampu melakukan tugas tersebut dengan maksimal sesuai yang dibutuhkan oleh tiap peserta didik.
Selain hal tersebut di atas tantangan yang dihadapi guru bahwa kebanyakan peserta didik berada dalam keluarga yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Selain itu Lingkungan belajar mereka juga banyak yang kurang mendidik bahkan ada terkesan masyarakat melakukan pembiaran terhadap perilaku peserta didik yang menyimpang dari aturan . Disamping itu kurangnya dukungan dari orang tua dan masyarakat terhadap program sekolah terkait dengan penegakan displin dan aturan tata tertib siswa. Dari beberapa tantangan diatas yang sering menjadi polemic dan boomerang bagi kita dalam menegakkan disiplin kepada peserta didik, maka dapat dilakukan beberapa usaha dan upaya guru melalui aksi nyata yang diberi nama“ Growth Mindset Coach”.Melalui karya artikel ini saya mencoba sharing aksi nyata yang dapat diterapkan dalam menumbuhkan dan menguatkan mindset peserta didik dalam upaya membentuk karakter yang kuat.
3.AKSI NYATA
Sebelum bapak/ibu memulai pelajaran lakukan keagaiatan persiapan dalam bentuk hening sejenak selama 15 menit. Dalam kegiatan ini peserta didik diajak untuk fokuskan pikiran dan membangkitkan alam bawah sadar, dan melepas pikiran-pikiran negative sebaliknya menumbuhkan pikiran positif. Hal ini dikenal dengan program Transidental Meditations (TM). Program ini idealnya dilaksanakan diawal dan di akhir pelajaran sebelum pulang sekolah. Dalam proses pembelajaran bapak/ibu guru dapat menerapkan kolaboratif learning maupun personal learning dengan mengamati sikap dan respon peserta didik dalam belajar. Hal ini dapat digambarkan pada bagan sbb:
Fixed vs Growth Mindset People:
Menghindar menyerah mubazir serangan ancaman
menerima bertahan peluang informasi inspirasi
Berdasarkan bagan di atas Bapak/Ibu guru sembari melaksanakan proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas dapat mengadakan pemetaan kepada semua peserta didik untuk mendapatkan data jenis mindset yang dimiliki oleh tiap peserta didik. Bagi peserta didik yang memiliki Fixed mindset maka ditindaklanjuti dengan coaching Growth Mindset terkait mindset mereka yang harus diperbaiki. Bila terkendala dalam monitoring dan pendampingan bisa dilakukan tindakan terhadap peserta didik di kelas yakni dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar. Bagaimana cara kita dalam memetakan mindset peserta didik…..? Disamping bapak/ibu bisa berkreasi membuat instrument sendiri dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan kehidupan sehari-hari. ( instrument link di bawah ini) :
- REFLEKSI
Dari paparan di atas, guru diharapkan mampu menerapkan tugas dan funsinya dengan maksimal dan selalu memperhatikan karakteristik peserta didik serta menemukan jenis mindset nya niscaya perkembangan karakter peserta didik akan tumbuh dengan baik dan menjadi anak-anak yang penuh optimis dalam meraih prestasi.
- PENUTUP
Demikianlah karya ini disusun untuk saya suguhkan kepada semua para pendidik untuk menjadi opsi dan salah satu strategi membantu masalah karakter peserta didik untuk diterapkan dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik yang baik, dan selalu memberi pelayanan yang dibutuhkan oleh setiap peserta didik yang memiliki keunikan masing-masing dan mampu menemukan kompetensi mereka untuk dibina dan dikembangkan sehingga kelak kemudian hari dapat dijadikan sebagai potensi diri dalam meraih cita-citanya.