Oleh I Made Jeneng

Guru yang seperti apakah yang kita rindukan?

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam peradaban sebuah bangsa. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai yang baik. Dari tangannyalah lahir generasi yang cerdas yang siap menerima tongkat estafet kepeminpinan bangsa. Guru juga merupakan ujung tombak dalam penyelenggaraan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Tidak mengherankan juka guru adalah orang yang patut digugu dan ditiru. Demikian orang menyanjungnya.

Guru tidak cukup hanya disanjung dengan selogan-selogan saja. Misalnya, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru juga manusia, yang perlu mencukupi kebutuhan dasarnya, apakah itu sandang, pangan, papan atau perumahan.

Di zaman Orde lama dan Orde Baru nasib guru seperti kerakap yang tumbuh di atasa batu. Hidup segan  mati tak mau. Karena faktanya begitu, sehingga  lahirlah lagu Oemar Bakrie  karya musisi legendaris Iwan Fals. Kita semua tahu syair lagu itu.

Oemar Bakrie Oemar Bakrie,  pegawai negeri. 

Oemar Bakrie  Oemar Bakrie banyak ciptakan menteri

Profesor, doktor , insinyur pun jadi

Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri.

Seiring perkembangan zaman, nasib guru berangsur-angsur berubah. Perhatian terhadap nasib guru mulai terjadi.  Kesejahteraan guru mulai menjadi perbincangan karena guru mendapat tunjangan profesi guru (TPG). Profesi guru mulai dipandang dan dipilih oleh para alumnus yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Para  universitas atau lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) mulai kebanjiran calon mahasiswa.

Di zaman globalisasi ini, guru mempunyai tugas memberikan pendidikan secara professional.  Di satu sisi diharapkan lebih bermoral dan berakhlak daripada masyarakat umum tetapi di sisi lain muncul berbagai problema.  Kini guru menghadapi persoalan lain lagi. Banyak guru yang dipolisikan karena ingin  menerapkan pendisiplinan siswa. Guru diadukan ke polisi, bahkan dipenjarakan. Ini tentu sangat memprihatinkan.

Bagaimanakah agar guru terbebas dari berbagai masalah dalam dunia pendidikan? Inilah yang harus dikaji lebih mendalam. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin menjadi guru yang dapat diterima oleh semua kalangan insan .

Sebenarnya guru itu dapat digolongkan dalam tiga kategori. Ada guru yang baik (Good Teacher), Guru terbaik (Best Teacher) dan guru hebat (Great Teacher). Dari ketiga golongan guru tersebut, yang paling baik adalah Great teacher. Apa itu guru hebat ? Guru hebat atau luar biasa itu adalah guru yang mampu menginspirasi. Untuk dapat menginspirasi, tentunya guru itu harus memiliki semua kompetensi guru, menguasai berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, baik itu olah raga maupun seni dan tak kalah pentingnya adalah guru harus memiliki selera humor yang tinggi.

Kita mengetahui bahwa potensi siswa itu adalah ada di otak kiri dan ada yang di otak kanan. Ada yang memiliki potensi akademik  dan ada yang meiliki potensi nonakademik. Untuk potensi akademik, guru tentunya harus menguasai disiplin ilmunya. Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. (Long Live Education) Sedangkan  untuk mengembangkan potensi nonakademik siswanya, guru harus memiliki keterampilan, bisa menguasai cabang permainan olah raga dan menguasai berbagai alat musik. Jika guru dapat memainkan alat apakah itu gitar atau piano, dan lain-lain, maka siswa akan sangat mengagumi gurunya. Dengan demikian, guru akan benar-benar ideal di mata para siswa. Dengan menguasai kedua potensi baik akademik maupun nonakademik, maka guru tersebut dapat diterima dengan mudah oleh semua kalangan siswa. Selain itu, guru juga harus bisa menjadi guru tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungannya sendiri dan di masyarakat secara luas.

Jika guru tersebut menguasai hal yang seperti dipaparkan tersebut, niscaya guru akan dapat menginspirasi siswa (Great Teacher).  Guru yang dapat mengispirasi siswa akan dapat dengan mudah menarik perhatian siswa dan dapat menerima kehadirannya, bahkan merindukan kehadirannya. Guru seperti ini akan menjadi guru di hati siswa. Bukan semata menjadi guru di mata siswa. Guru yang menginspirasi siswa akan menjadi teladan bagi para siswanya. Bukankah siswa memerlukan teladan daripada sekadar sebuah contoh?

Untuk menjadi teladan, memang guru itu lebih terlihat dari kualitas wawasan dan pengetahuannya, sikap, dan karakternya. Dengan wawasan yang luas, karakter yang baik, dan sikap yang penuh empati, maka guru itu  akan sangat diterima di hati siswa. Apalagi memiliki kemampuan memberikan konseling kepada siswa. Guru seharusnya juga akan menjadi seorang konselor bagi siswanya.

Untuk dapat membimbing siswa, tentunya guru juga harus menguasai psikologi dan teknik konseling untuk membina karakter siswanya. Ini adalah hal yang langsung menyentuh hati siswa. Jika guru sudah masuk ke hati siswa, maka guru akan menjadi guru di hati siswa. Siswa akan mudah dikendalikan ke arah yang baik.

Guru yang kita rindukan adalah guru yang hebat (Great Teacher). Apa itu guru yang hebat? Guru yang mampu menginspirasi siswa atau semua orang. Untuk dapat menginspirasi, tentunya guru harus memiliki seluruh kompetensi guru dan yang tidak kalah penting adalah guru menjadi teladan bagi semua, baik keintelektualannya, keterampilannya di bidang olah raga dan seni dan sikapnya yang dikagumi karena keluhuran budi pakertinya.