Oleh: Luh Putu Suciasih. P, S.Mn
Pustakawan SMA Negeri 1 Banjar
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Perpustakaan tidaklah asing di telinga kita. Persepsi kita akan tertuju pada deretan almari atau rak buku yang tersusun secara teratur dan rapi di sebuah ruangan dengan pemustaka yang tertunduk di atas meja sedang asik membuka atau membaca buku.
Tidak dipungkiri perpustakaan memiliki tantangan berat. Apalagi di era digital ini. Perpustakaan berada di antara derasnya kemajuan teknologi informasi diantaranya gadget dengan berbagai aplikasi yang semakin canggih yang memudahkan masyarakat kita semakin terlena dengan kemudahan-kemudahan yang disajikan dalam menelusuri informasi. Betapa sulitnya hal itu dibendung sehingga saat ini jarang sekali kita bisa menemukan anak-anak kita yang asik membaca buku-buku bacaan baik di rumah, di sekolah atau di tempat-tempat lainnya. Tak jarang anak-anak balita pun sudah mulai memegang gadget karna orang tua yang tidak ingin direpotkan dalam pola asuh anak. Siswa dari berbagai jenjang dan tak jarang mahasiswa pun enggan membaca buku dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau kampus karna mereka cenderung mengupayakan jalan instan untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Anak-anak lebih asik tinggal di kamar menyendiri dan bermalas-malasan hanya sekedar menikmati berbagai kemudahan akses informasi dan hiburan melalui media sosial.
Fenomena ini mengkonfirmasi beberapa hasil riset yang dilakukan oleh beberapa lembaga. Pertama : UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0.001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda bertajuk World’s Most Most Literate Nation Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61) . K : 60 juta penduduk Indonesia memeliki gedget atau urutan kelima terbanyak di dunia. Lembaga riset digital marketing memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu Indonesia menjadi Negara pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika. Ironisnya, meski minat membaca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam per hari. Melalui gadget banyak informasi yang beredar, sayangngya tidak semua informasi yang diterima berasal dari media yang bisa dipercaya melainkan dari media sosial yang lebih banyak dipenuhi oleh opini bukan fakta.
Karena pengaruh kemajuan teknologi yang semakin membuat orang lebih suka menikmati hiburan melalui media sosial, tentu dampak yang membuat orang asik itu menyebabkan semakin jauhnya buku dari jangkauan kita. Jika ini tidak disertai dengan kerja keras dari pihak pustakawan khususnya, buku akan semakin ditinggalkan. Memang kemajuan teknologi ini tidak dapat kita bendung. Masyarakat telah mengalami pergeseran dalam cara mereka mendapatkan sumber pengetahuan dan informasi. Namun, pustakawan khususnya yang bertugas di sekolah tidak boleh menyerah kalah.
Pelayanan terhadap para pemustaka harus lebih gencar dilakukan dengan mencari terobosan-terobosan baru agar secara tidak sengaja kita terus mendekatkan perpustakaan kepada para pemustaka khususnya siswa sehingga fungsi perpustakaan sebagai sumber salah satu pembelajaran dapat difungsikan dan proses transfer ilmu kepada pemustaka dapat berhasil dengan baik.
1. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut dapatlah dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
- Bagaimanakah penataan ruang perpustakaan sekolah yang baik?
- Bagaimana peranan pustakawan sekolah dalam mendekatkan bahan pustaka kepada pemustaka khususnya di tingkat Sekolah Menengah Atas?
1. 3.Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah:
- Untuk mengetahuai bagaimanakah penataan ruang perpustakaan sekolah yang baik;
- Untuk mengetahui bagaimanakah peranan pustakawan sekolah dalam transfer ilmu kepada para pemustaka khususnya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah merupakan bagian yang sangat penting dari komponen pendidikan dan tidak dapat dipisahkan keberadaaannya dari lingkungan sekolah. Sebagai salah satu sarana pendidikan, , perpustakaan sekolah berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar siswa dan membantu guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Pentingnya Perpustakaan sekolah dapat dilihat dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional yang menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar yaitu perpustakaan sekolah.
Kalau kita simak pasal yang menyangkut eksistensi perpustakaan yaitu pasal 35, disebutkan bahwa “Setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar .” Pada penjelasan selanjutnya dinyatakan antara lain:” Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bila para tenaga kependidikan aupun peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Salah satu sumber belajar yang amat penting tetapi bukan satu-satunya adalah perpustakaan. Jika dilihat dari penjelasan tersebut hakikat perpustakaan sekolah adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun dan diorganiasikan sebagai media belajar siswa. Sedangkan Wafford (1969:1) menerjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. Lebih luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan mengelola dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sumber belajar yang menyenangkan.
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan siswa dapat mendidik dirinya secara keseluruhan.
Mbulu (1992:89) menyatakan bahwa perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaannya dengan pertimbangan bahwa:
- Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar di lingkungan sekolah
- Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen dalam pengajaran
- Perpustakaan sekolah merupakan sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran
- Perpustakaan sekolah sebagai laboraturium belajar yang memungkinkan peserta didik dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berfikir dan berkomunikasi.
A. Fungsi Perpustakaan
Secara umum, perpustakan mengemban beberapa fungsi umum sebagai berikut:
1. Fungsi Informasi
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar pengguna perpustakan dapat:
- Mengambil berbagai ide dari buku yang ditulis oleh para ahli dari berbagai ilmu
- Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih infor,masi yang layak sesuai dengan kebutuhannya
- Memperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan
- Memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
2. Fungsi Pendidikan
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya sebagai sarana untuk menerapkan tujuan pendidikan. Melalui fungsi iniyang diperoleh adalah:
- Agar pengguna perpustakaan mendapat kesempatan untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan
- Untuk membangkitkan dan mengembangkan minat yang telah dimiliki pengguna yaitu dengan mempertinggi kreativitas dan intelektual
- Mempertinggi sikap sosial dan menciptakan masyarakat yang demokratis
- Mempercepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru.
3. Fungsi Kebudayaan
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk :
- Meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfaatkan berbagai informasi sebagai rekaman budaya bangsa untuk meningkatkan taraf hidup secara individu maupun kelompok
- Membangkitkan minat terhadap kesenian dan keindahan yang merupakan salah satu kebutuhan manusia terhadap cita, rasa dan seni
- Mendorong tumbuhnya kreatifitas dalam berkesenian
- Mengembangkan sikap dan sifat hubungan manusia yang positif serta menunjang kehidupan antar budaya secara harmonis
- Menumbuhkan budaya baca di kalangan pengguna sebagai bekal alih teknologi.
4. Fungsi Rekreasi
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya untuk:
- Menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani
- Mengembangkan minat rekreasi pengguna melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang
- Menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif.
5. Fungsi Penelitian
Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian. Informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi.
6. Fungsi deposit
Sebagai fungsi deposit perpustakaan berkewajiban menyimpan dan melestarikan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah Indonesia. Perpustakaan yang menjalankan fungsi deposit secara nasional adalah Perpustakaan Nasional. SEbagai fungsi deposit Perpustakan Nasional merupakan perpustakaan yang ditunjuk oleh UU No.4 Tahun 1990 yaitu Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam untuk menghimpun, menyimpan melestarikan, dan mendayagunakan semua karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di wilayah Republik Indonesia.
Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar
Jika dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber yang tersedia di lingkungan sekolah. Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education Communication Technology ( AECT) maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.
Ditinjau dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sember belajar menjadi dua macam, yaitu:
- Sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk membantu tujuan pembelajaran tertentu
- Sumber belajar yang tidak dirancang atau sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran, ini banyak terdapat di sekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum.
Mengacu pada definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai sumber belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran.
Pepustakaan sekolah bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisasi, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya piker, mendidik murid agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien, serta memberikan dasar kea rah studi madiri.
Kiat-kiat verbal dan non verbal agar pemustaka merasa dilayani
Kiat-kiat verbal dan non verbal yang dapat dilakukan pustakawan agar pemustaka merasa dilayani adalah sambut pemustaka. Buat pemustaka merasa penting dan dihargai, tanyakan yang bisa dibantu, dengarkan, bantu pemustakan dan buat agar pemustaka merasa diundang untuk datang kembali.
a. Sambut pemustaka
Usahakan pemustaka merasa nyaman berada di perpustakaan dengan cara: 1. Atur lingkungan fisik agar nyamanbagi pemustaka eksternal maupun internal; 2. Perhatikan penampilan; dan 3. Lakukan kontak mata, ekspresikan kegembiraan ketika menemui pemustaka
b. Usahakan pemustaka merasa penting dan dihargai.
Cara yang dapat dilakukan untuk membuat pemustaka merasa penting dan dihargai antara lain: pemustaka mendapatkan apa yang diinginkan atau yang dibutuhkannya, pemustaka merasa dibantu dalam memecahkan masalahnya, dan pemustaka merasa mendapatkan nilai “excellent” dari pengalamannya di perpustakaan.
c. Tanyakan yang dapat dibantu
Pada tahapan interaksi dibutuhkan keahlian berkomunikasi untuk menggali apa yang menjadi minat, kebutuhan, aspirasi, keinginan, pola pikir pemustaka, dan karakter atau sifat pemustaka. Dari proses ini perpustakaan bisa mengetahui tentang subjek yang menjadi minat pemustaka dan jenis-jenis layanan informasiyang bisa diberikan perpustakaan. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah cara pustakawan memperlakukan dengan hormat, dengan empatidan dengan perhatian yang tulus, akan mempunyai pandangan yang lebih baik tentang nilai keseluruhan dari interaksi tersebut.
d. Dengarkan
Mendengarkan yang dimaksud adalah kemampuan staf perpustakaan untuk memahami keinginan pemustaka. Pustakawan memang selalu mendengar, akan tetapi pahamkah pustakawan itu terhadap keinginan orang lainyang suaranya sedang pustakawan itu dengarkan. Kelihatannya memang mudah akan tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Masih sering didengar kesalah pengertian atau kesalahpahaman pustakawan dalam menangkap apa yang dikatakan oleh pemustaka. Kemudian bagaimana pustakawan hadir di hadapan pemustakanya. Maksudnya di sini adalah kesan apakah yang ditimbulkan oleh pustakawan kepada pemustakanya.
e. Usahakan agar pemustaka merasa diundang untuk datang kembali.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara katakana terimakasih untuk kedatangannya, ajak/ undang pemustaka untuk datang lagi. Semakin perpustakaan berinteraksi dengan pemustaka dan mempelajari karakteristik dari masing-masing pemustaka, semakin mudah perpustakaan mengetahui keinginan dari pemustakanya. Karena adanya titik temu antara pustakawan dan pemustaka berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul merupakan kebutuhan yang perlu ( felt need).
Kegiatan komunikasi yang baik sangat mendukung proses promosi. Komunikasi mengajarkan bagaimana pustakawan berinteraksi dengan orang lain, menyimak, memahami, melayani dan menginterpretasi tindakan pemustaka dengan berbagai karakter, kebiasaan, adat, nilai dan norma. Untuk itu pustakawan dituntut kesadarannya untuk membenahinya secara detail cara berkomunikasi.
Bab III
PEMBAHASAN
3.1 Penataan Perpustakaan Sekolah yang Baik
Perpustakaan merupakan sebuah tempat yang menurut agama Hindu adalah sebuah tempat suci. Di sinilah tempat sang Hyang Aji Saraswati di puja dalam wujud aksara tertuang dalam bentuk kitab atau buku baik referensi, dan segala jenis buku hasil tulisan pengarang. Seyogyanya perpustakaan berada di tempat yang secara geografis berada pada posisi strategis dalam artian mudah dijangkau oleh segenap sivitas akademika khususnya di sekolah tersebut.
Berada di tempat strategis saja belumlah cukup untuk dapat menarik para pemustaka datang ke perpustakaan sekolah. Tampilan gedung yang baik dan nyaman dikelilingi oleh suasana rindang, sejuk dan nyaman, tentu akan semakin membuat perpustakaan menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh para siswa baik yang sengaja datang utnuk membaca buku atau pun mereka yang hanya sekadar menghabiskan waktu istirahatnya,
Ruang merupakan hal yang penting bagi perpustakaan setelah koleksi pustaka. Ruangan yang nyaman akan menarik pemustaka untuk berkunujung ke dalamnya. Cara kita menata interior dan menempatkan koleksi pustaka dan ruang baca yang nyaman tentu sebuah keniscayaan yang harus dilakukan.
Penataan ruang perpustakaan sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan semua kegiatan baik aspek layanan,maupun untuk kegiatan penyiapan sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan. Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang lengkap dengan ruang baca yang memadai dan nyaman. Untuk itulah tata ruang perpustakaan harus dirancang sedemikian rupa dengan memperhatikan sirkulasi udara, pencahayaan, lay out, perabot dan ruang baca yang nyaman. Demikian juga, kita harus membuat ruangan perpustakaan memiliki nilai visual auditoris dan aura magis yang menentramkan baik mulai dari penataan terhadap kedatangan pemustaka maupun interior di dalam koleksi dan ruang baca.
Untuk menyambut pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan dengan kesan selamat datang, meja sirkulasi di tempatkan pada posisi “Welcome” dengan penataan yang membuat pengunjung untuk selalu tertarik datang berkunjung pada hari berikutnya. Kesan sejuk, sakral dengan aroma wangi dupa pada pelaggkiran di perpustakaan, dan senyum petugas perpustakaan ramah terahadap pengunjung juga merupakan hal hal tidak boleh diabaikan para petugas perpustakaan. Usahakan agar pemustaka merasa diundang untuk datang kembali.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara katakan terimakasih untuk kedatangannya, ajak/ undang pemustaka untuk datang lagi. Semakin perpustakaan berinteraksi dengan pemustaka dan mempelajari karakteristik dari masing-masing pemustaka, semakin mudah perpustakaan mengetahui keinginan dari pemustakanya. Karena adanya titik temu antara pustakawan dan pemustaka berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul merupakan kebutuhan yang perlu ( felt need).
Secara visual penataan informasi yang ada haruslah mendukung fungsi perpustakaan sebai sumber informasi yang mudah. Semua yang terpampang di dinding perpustakaan dalam bentuk foto atau lukisan harus bercerita tentang informasi penting yang bisa didapatkan hanya dengan memandang dan menikmatintya saja. Misalnya, di dinding dapat kita pasang foto-foto presiden dari periode nke periode kemerdekaan bangsa kita., lukisan atau foto-foto raja-raja yang pernah memerintah di Bali misalnya, foto para pejuang yang berasal dari daerah kita ,Bali khususnya, foto-foto daerah destinasi wisata yang ada di Bali dan luar Bali.
Penataan koleksi pustaka merupakan langkah selanjutnya setelah para pemustaka masuk lebih dalam menuju bahan pustaka yang akan dicari. Rak buku dan almari atau sejenisnya ditata dengan ruang yang memungkinkan pemustaka tidak merasa terintimidasi dan merasa nyaman untuk menemukan bahan pustaka yang dicarinya. Rak buku yang memungkinkan dapat melihat koleksi bahan pustaka dengan mudah juga adalah hal yang sangat membantu pemustaka untuk nyaman berlama-lama di perpustakaan.
Penggunaan audio penting juga dalam membuat suasana nyaman di ruang perpustakaan. Audio dapat kita tempatkan pada posisi-posisi yang tidak mengganggu pelayanan perpustakaan. Audio dapat diperdengarkan baik yang berupa instrumentalia, atau musik tradisional yang menonjolkan suara seruling atau saksofon untuk menambah ketenteraman dan kecintaan pemustaka akan budaya setempat.
Cermin dalam ukuran agak besar merupakan hal yang dapat menarik pemustaka untuk datang berkunjung ke perpustakaan sekolah. Dengan adanya cermin, para pemustaka akan dapat mengontrol penampilannya melalui refleksi dalam cermin dan dapat dimanfaatkan untuk mengontrol pengunjung secara tidak langsung. Dengan demikian, pengunjung tidak secara langsung merasa diawasi, dipandangi terus.
3.2 Peranan Pustakawan Sekolah dalam Transfer Ilmu Melalui Laporan Hasil Baca Siswa Khususnya di Tingkat Sekoalah Menengah Atas (SMA)
Pemustaka di sekolah pastilah guru, pegawai , siswa dan sivitas akademika lainnya yang ada di sekolah tersebut. Dalam meningkatkan pelayanan perpustakaan terhadap pemustaka di sekolah, pustakawan sekolah harus aktif mencari terobosan baru dalam mengelola para sivitas akademika di sekolah sebagai pemustaka agar mereka dengan secara tidak sengaja terlibat dalam peningkatan budaya literasi di sekolah.
Peranan pustakawan di sekolah dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada para siswa menjadi tujuan utama bagi pustakawan sekolah. Bekerja sama dengan guru semua mata pelajaran merupakan hal yang terpenting bagi pustakawan dalam meningkatkan minat baca dan transfer ilmu kepada para siswa. Literasi dasar yang terrendah dapat dicapai dari kerja sama ini adalah siswa membaca buku, memahami isinya dan membuat laporan hasil bacanya. Dengan menugaskan membuat laporan hasil baca para siswa yang diserahkan kepada para guru maka siswa akan memanfaatkan koleksi pustaka perpustakaan sekolah, meminjam buku, membacanya, dan menuliskan pemahamannya terhadap isi buku tersebut dalam bentuk laporan yang sangat sederhana.
Laporan hasil baca merupakan hal yang sangat penting dan bermanfaat bagi para siswa dalam meningkatkan literasinya. Dengan membuat laporan hasil baca buku, siswa akan secara otomatis menambah koleksi buku yang telah dibacanya.
Dalam menyusun laporan hasil baca buku, siswa memilih buku yang menarik menurut pandangan siswa sesuai tema tertuang dalam kurikulum yang ditugaskan guru mata pelajaran sesuai kompetensi pembelajaran. Dari penyusunan laporan hasil baca buku yang ditugaskan kepada siswa sebagai bentuk kerja sama pustakawan sekolah dengan para guru, berarti pustakawan telah menyerahkan kunci kepada para siswa yang digunakan untuk membuka gudang ilmu pengetahuan. Bukankah buku aalah gudangnya ilmu pengetahuan dan membaca adalah kuncinya.
Laporan hasil baca tersebut selanjutnya didokumentasikan di perpustakaan sekolah. Koleksi pustaka di sekolah secara otomatis akan semakin kaya dari hasil karya siswa itu sendiri.
Memahami psikologis para siswa di jenjang atau masa pubertas, juga merupakan hal yang wajib bagi pustakawan. Dengan memahami perilaku dan psikologis siswa pada usia ini akan dapat mendekatkan perpustakaan dan bahan pustaka kepada mereka dengan baik. Siswa akan dapat kita arahkan dengan baik karena mereka menerima kehadiran kita karena hubungan psikologis kita terjalin. Pustakawan diharapkan dapat menjadi tempat curahan pikiran dan perasaan para pemustaka, siswa khususnya. Dengan hubungan baik yang terjalin secara psikologis antara siswa dengan pustakawan sekolah akan membuat siswa nyaman di perpiustakaan sekolah. Dengan demikian, perpustakaan merupakan tempat yang paling dirindukan di sekolah.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
- Perpustakaan sekolah merupakan bagian yang sangat penting dari komponen pendidikan dan tidak dapat dipisahkan keberadaaannya dari lingkungan sekolah. Demikian pentingnya perpustakaan sekolah bagi dunia pendidikan, seyogyanya perpustakaan ditata dengan memperhatiakan tata ruang sekoah agar berada di posisi yang strategis dan ditata dengan menarik, nyaman sehingga menjadi tempat yang paling dirindukan olaeh segenap sivitas akademika di sekoalh tersebut;
- Peranan pustakawan sekolah dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada pemustaka, khususnya para siswa sangatlah penting. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari terobosan baru yang kreatif yang dapat meningkatkan penggunaan layanan perpustakaan sekolah, yaitu menugaskan siswa membuat laporan hasil baca buku melalui kerja sama antara pustakawan sekolah dengan para guru pengampu mata pelajaran di sekolah sesuai muatan kurikulum bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
NS, Sutarno.2005. Tanggung Jawab Perpustakaan dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi.Jakarta: Panta Rei.
Rhahmah, Elva. 2018. Akses dan Layanan Perpustakaan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Prenadamedia group.
HS,Lasa. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher