Oleh : Ketut Regita Putri

 

Ini adalah narasi tentang aku si Bungsu. Yang katanya hanya anak manja, entah kapan menjadi manusia dewasa. Memangnya dewasa itu seperti apa? Apakah tentang sebuah pemikiran atau hanya sekedar tentang usia? Terkadang aku heran mengapa anak terakhir disebut anak manja. Bukankah pada setiap raga orang dewasa juga ada anak kecil di dalamnya, lantas mengapa si bungsu saja yang dikatakan manja?

Namaku Bianca Putri. Aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Aku anak kelahiran 2009, usiaku saat ini memang masih terbilang muda. Meskipun begitu, aku sadar bahwa tuntunan untuk menjadi dewasa datang jauh sebelum waktunya. Aku memang bungsu, tetapi hidupku tidak lagi tentang bermain tanpa beban pikiran. Walaupun begitu aku masih dipandang sebagai anak manja oleh kebanyakan orang.

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, ayah bekerja sebagai buruh serabutan dan ibu membantu tetangga berjualan. Kakak pertamaku memutuskan untuk menikah di usia muda, kakakku yang kedua dan ketiga masih bekerja yang penghasilannya tidak seberapa. Bagi keluargaku aku adalah satu satunya harapan untuk menaikkan derajat orang tua. Pada pundak kecil inilah mereka menyandarkan mimpi dan harapan yang besar.

Pagi ini, seperti biasa, aku sudah berdiri di depan cermin, mengamati seragam putih abuku. Seragam yang selalu terasa sedikit kebesaran di bahu, mungkin karena aku selalu berharap bisa tumbuh secepat kakak-kakakku yang sudah  bekerja. Di punggungku, ransel berwarna biru muda yang isinya sudah penuh dengan buku-buku pelajaran terasa berat, tetapi beban itu tidak seberat harapan keluargaku.

Di dapur ibu sedang menyiapkan makanan untuk kita semua dan aku dibuatkan sarapan telur ceplok yang sangat sederhana namun terasa istimewa. Ayah duduk di teras rumah sembari menikmati hangatnya kopi di pagi hari. “Bianca kemarin belajar apa sampai larut malam?”, tanya ayah. “Kemarin aku belajar matematika, karena hari ini ada ulangan yah”, jawabku sambil menyantap sarapan. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah ayah dan ibu selalu menatapku dengan tatapan penuh harapan yang tak pernah padam. Aku tahu biaya sekolahku dan hutang-hutang yang harus dilunasi membuat ayah dan ibu harus bekerja keras. Melihat mereka selalu bekerja keras dari pagi sampai malam hatiku teriris. Tekadku semakin kuat, aku tidak mau kerja keras mereka sia-sia.

Singkat cerita, aku berangkat sekolah dan sampai di depan gerbang. Gerbang besi yang besar dan kokoh itu terasa seperti garis start sekaligus medan perang bagiku. Setiap pagi sebelum kakiku melewati gerbang besar itu aku selalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

Huufftt…..

Hembusan itu bukanlah sekedar membuang karbon dioksida. Itu adalah hembusan untuk membuang ketakutan, kecemasan, dan menguatkan tekad. Aku bukan siswa yang menonjol dalam hal pergaulan, aku cenderung menarik diri jika harus berkenalan dengan orang banyak. Bagiku memiliki satu atau dua teman saja sudah cukup. Walaupun begitu, di kelas aku adalah pemburu ilmu. Aku selalu ingin duduk dibangku depan, mencatat apa yang disampaikan guru, dan selalu bersemangat menjawab berbagai pertanyaan dengan sungguh-sungguh.

Ulangan matematika berjalan lancar. Aku merasa berhasil menjawab semua soal dengan baik. Saat jam istirahat, bukannya pergi ke kantin, aku lebih memilih mengulangi soal-soal di dalam kepala dan kembali mengerjakannya. Tutik teman sebangkuku menyenggolku “Bianca, kamu nggak bosan belajar terus?” tanya Tutik. Aku tersenyum kecil. “Nggak, Tik. Justru ini yang buat aku semangat. Aku punya mimpi. Aku mau sekolah sampai jenjang tertinggi, aku mau menggapai cita-citaku dan mewujudkan semua mimpiku. Kalau aku berhasil, ayah dan ibuku bisa berhenti bekerja dan tidak memikirkan biaya hidup lagi. Tutik terdiam, menatapku dan memberi senyuman. “Aku si bungsu, tapi aku mau jadi penutup manis dari perjuangan ayah dan ibu membesarkan kami semua. Sekolah ini adalah jembatanku untuk menuju masa depan”, lanjutku.

Sore harinya, saat aku pulang, aku membuka handphone bekas kakakku. Sambil menunggu ibu pulang, aku mencari tahu tentang beasiswa untuk anak berprestasi. Aku tahu, beasiswa adalah kunci untuk meringankan beban ayah dan ibu. Malam harinya, setelah makan malam, aku menyerahkan kertas ulangan matematika yang sudah bertanda tangan guru. Di sudut atas, tertulis angka 100 dengan tinta merah yang tebal. Ayah dan ibu mengambil kertas itu. Wajah lelah mereka seketika berubah. Senyum lebar dari ayah dan ibu adalah pemandangan paling indah yang selalu inginku lihat. Ibu mengelus lembut kepalaku dan ayah menepuk pundakku. “Teruskan semangatmu, nak. Ayah dan ibu akan selalu mendukungmu”, kata ayah. Mendengar kata-kata itu, aku merasa beban ransel beratku tadi pagi mendadak lenyap. Rasa lelah karena belajar berjam-jam terbayar lunas.

 

Aku adalah Bianca Putri, si bungsu yang masih belia. Tetapi aku sudah punya komitmen, belajar adalah baktiku dan prestasi adalah hadiah terindah untuk orang tuaku. Aku tahu jalannya masih panjang, masih ada banyak buku yang harus dibaca, dan ujian yang harus dihadapi. Tapi dengan doa dan dukungan dari kedua orang tuaku, serta tekad yang kuat, aku yakin bisa meraih impian itu. Demi ayah, demi ibu, dan demi masa depan yang lebih baik.