Oleh: Luh Putu Suciasih. P, S.Mn

SMA Negeri 1 Banjar

Minat membaca buku cetak khususnya, saat ini cenderung menurun di kalangan para siswa. Fenomena ini terjadi tidak hanya di Indonesia. Di Negara maju seperti Amerika,  juga terjadi penurunan jumlah orang yang membaca buku cetak. Siswa lebih suka  bermain telephone seluler atau HP daripada membaca buku.  Bahkan, yang lebih parah lagi, fenomena phubbing  telah menjangkiti para siswa kita.

Phubbing telah menjadi fenomena dalam kehidupan tidak hanya pada remaja, tetapi pada orang dewasa  bahkan para orang tua.. Phubbing merupakan kependekan dari phone snubbing. Kosa kata ini pertama kali dikenalkan oleh agensi periklanan McCann lalu terdaftar dalam kamus Macquarie. Menurut kamus Macquarie, Phubbing diartikan sebagai sebuah tindakan acuh tak acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadget daripada membangun percakapan dengan lingkungann sekitarnya.(mediaindonesia.com) Kecanduan akan media sosial sangat menurunkan minat  untuk membaca buku.

Semakin menurunnya minat baca khususnya para siswa, tentu akan berdampak pada kemampuan bernalar dan pengembangan diri mereka. Kemampuan untuk menganalisa permasalahan dan terlibat secara aktif dalam mencari berbagai solusi dari permasalahan hidup tidak akan berkembang dengan baik. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang selalu memanfaatkan setiap kesempatannya untuk membaca buku. Tidak salah ada sebuah pepatah yang menyatakan bahwa “ orang yang banyak membaca buku, banyak tahu. Sementara orang yang tidak baca buku adalah sok tahu.”

Manfaat membaca buku tentu sudah tidak diragukan lagi. Orang yang memiliki wawasan  pengetahuan yang luas akan menjadi teman yang sangat berguna dan menyenangkan bagi orang di sekitarnya. Ia akan menjadi sebuah lentera yang menerangi kegelapan akan ilmu pengetahuan. Banyak komunikasi akan terbangun dari luasnya wawasan hasil dari membaca buku. Secara tidak langsung, hal ini akan dapat mengurangi budaya phubbing.

Negara Jepang menjadi berkembang pesat maju disebabkan karena minat baca buku tinggi. Orang lebih suka membaca buku, baik itu di transportasi umum, atau pun di tempat umum lainnya untuk mengusir rasa bosannya. Hal ini tentu patut dicontoh  karena dengan membaca buku wawasan kita akan bertambah luas. Dengan semakin luasnya wawasan, maka kualitas hidup juga akan meningkat.

Untuk terus menerus meningkatkan budaya baca khususnya para siswa memang bukan pekerjaan yang mudah. Tantangan perkembangan media sosial tentu mau tidak mau harus dihadapi walaupun dengan sangat berusah payah  dan harus melibatkan semua pihak yang terkait. Dalam hal ini,   yang paling diharapkan adalah sinergisitas pihak  pengelola perpustakaan di sekoah  dan para guru sebagai agen perubahan dalam dunia pendidikan.

Keterlibatan yang seperti apakah yang diharapkan kepada pihak pengelola perpustakaan sekolah dan para guru? Tentu saja pengelola perpustakaan sekolah harus menata tampilan sedemikian rupa, rapi dan bersih sehingga siswa merasa tertarik, nyaman dan betah berada di perpustakaan sekolah.. Demikian juga,  pelayanan perpustakaan sekolah harus cepat, efisien, mudah.  Perpustakaan harus diciptakan  sebagai tempat pilihan pavorit bagi siswa. Selain itu, itu, pengelola perpustakaan juga harus sedikit banyak mengetahui tuntutan muatan kurikulum di sekolah yang berkaitan dengan penggunaan perpustakaan sekolah. Harapannya adalah segala fasilitas perpustakaan disinergikan dengan tuntutan kurikulum , khususnya dalam penyediaan bahan pustaka. Misalnya, dalam pembelajaran dengan kurikulum 13 di Sekolah Menengah Atas khususnya di kelas XII, ada kompetensi dasar melaporkan kegiatan membaca bukunonfiksi. Untuk mencari buku nonfiksi dengan cara mewajibkan siswa untuk mencari di toko buku dan  membelinya, tentu bukanlah merupakan tindakan yang bijak yang dilakukan para guru. Di sinilah peran para pengelola perpustakaan  sangat penting. Untuk pengadaan buku-buku nonfiksi, perpustakaan sekolah harus sedikit – dikitnya, atau  paling tidak, memperhatikan muatan kurikulum serta tuntutan kurikulum sesuai dengan perkembangannya.

Kalau dilihat dari jumlah buku yang paling diminati oleh siswa dan  dipinjam dari perpustakaan sekolah,  adalah buku fiksi. Baik itu novel, komik, atau pun fiksi lainnya. Namun, untuk pengembangan diri para siswa haruslah diwajibkan membaca buku-buku untuk pengayaan,  mengembangkan wawasan, karakter serta kepribadian mereka.

Setelah kegiatan membaca buku dilakukan oleh siswa, pihak perpustakaan bekerja sama dengan para guru dengan menugaskan para siswa  untuk membuat laporan hasil baca buku  yang telah dibaca. Laporan hasil baca tersebut akan didokumentasikan baik  dalam bentuk hardcopy(cetak)  atau softcopy. Hardcopy  atau pun   softcopy tersebut akan disimpan di perpustakaan sebagai sebuah portofolio dan koleksi perpustakaan sekolah. Portofolio hasil karya siswa akan menjadi nilai plus bagi perpustakaan sekolah. Ini  akan menjadi kebanggaan bagi para siswa karena karyanya tersimpan sebagai koleksi perpustakaan sekolah.

Demikian pentingnya manfaat membaca buku  bagi siswa, maka segala upaya harus dilakukan untuk mengimbangi kegandrungan siswa terhadap daya tarik media sosial saat ini. Guru sebagai garda terdepan dalam pemasyarakatan budaya baca harus bekerja sama membangun simbiosis  dengan pihak pengelola perpustakaan. Dengan mewajibkan siswa untuk membuat laporan hasil bacanya dan didokumentasikan di perpustakaan sekolah, diharapkan siswa akan menyelesaikan tugas bacanya untuk secara tuntas membaca buku bersangkutan. Dengan demikian, budaya negatif sebagai dampak  dari media sosial khususnya phubhing dapat ditanggulangi.